Hidayatullah.com — Pengamat media Marsono Sayoto mengatakan momentum Ramadhan saat ini adalah kesempatan fokus menempa dan mengintrospeksi diri untuk menjadi pribadi masa depan yang lebih baik.
Sehingga hal-hal yang bisa membuat kita lalai, lanjut dia, seharusnya harus dapat segera diminimalisir semaksimal mungkin seperti tayangan televisi, ia mencontohkan.
“Tivi adalah tipuan visual. Sering menghadirkan tayangan yang mengesankan kenikmatan, sendau gurau, entertain ilusi, dan hal-hal yang sebetulnya sama sekali nihil dari nilai edukasi,” kata Marsono Sayoto ditemui hidayatullah.com di kantornya di Depok, Ahad (22/07/2012).
Menurut Marsono Sayoto, meskipun di bulan Ramadhan seperti saat ini sejumlah stasiun televisi rajin menayangkan sinetron atau segmen bertema “religi islami”, namun tak jarang juga di dalamnya terselip kampanye amoralitas yang berlawananan dengan nilai mainstream budi pekerti keislaman.
Lebih lanjut kata dia, secara psikologis menonton televisi dalam rentang waktu yang tak dapat dikontrol sangatlah berbahaya. Kondisi yang demikian, lanjut Marsono, rentan menimbulkan candu akut yang bisa menyebabkan pelakunya menjadi berjiwa labil, emosional, dan menjadi tumpul otaknya.
“Apa yang kita dapatkan dari acara lawak di TV menjelang sahur dan setelah sahur, logika yang harus menjawab ini. Tapi kalau merasa butuh itu, ya silahkan. Momentum Ramadhan jangan sampai lewat sia-sia hanya karena kita sibuk mengenyangkan jasmani, sementara rohani terabaikan,” jelasnya.
Kita sebagai penikmat suguhan dari televisi yang sarat indsutri kapital, lanjut Marsono, harus mampu dalam memilah dan memilih tayangan yang tepat dan seuai dengan kebutuhan.
“Kalau tetap tak mampu memilah, ya lebih baik matikan tivi sekarang!,” tegasnya memungkasi.*