Hidayatullah.com–Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjawab isu rekayasa gelar yang diterimanya dari Ratu Elizabeth II. SBY menegaskan pemberian gelar Honorary Knights Grand Cross of the Order of the Bath tau gelar “Ksatria Salib Agung” dinilai sebagai bentuk penghargaan atas prestasinya, bukan permintaan.
Penegasan itu disampaikan SBY sesaat sebelum meninggalkan Inggris menuju Laos, Sabtu (03/11/2012) waktu setempat sebagaimana dikutip dari laman metrotvnews.
Menurut SBY, rakyat Indonesia seharusnya bangga atas berbagai penghargaan yang diterima lewat dirinya di dunia internasional. Hal itu sekaligus menjawab kritik sejumlah pihak yang mempertanyakan dasar pemberian gelar di tanah air.
Ratu Inggris menilai SBY layak mendapat gelar tersebut. Ratu Inggris menilai SBY mampu mentransformasikan demokrasi Indonesia menjadi lebih kokoh. SBY pun mampu menciptakan hubungan bilateral Indonesia- Inggris menjadi lebih baik dan positif.
Kritik PDI-P
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyesalkan kepergian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke luar negeri, di tengah memuncaknya konflik di Lampung Selatan beberapa hari terakhir ini. Menurut PDI-P, presiden seharusnya menghadapi masalah konflik Lampung Selatan di dalam negeri, bukan memilih menerima gelar kehormatan dari Ratu Inggris.
“DPP PDI Perjuangan mendesak Presiden RI untuk lebih mengutamakan kebijakan prioritas kerja kenegaraannya, di tengah masih adanya konflik horizontal yang terus membawa korban jiwa,” kata Wasekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam jumpa pers di Jakarta.
Sebelumnya, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga mengkritik pemberian ini, karena menurutnya, tidak ada makan siang yang gratis.*