Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Dua Tokoh Pesantren Kritik Pendidikan Indonesia

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 12 November 2012 04:12
Bagikan
orang berkarakter belum tentu memiliki akhlak
Bagikan

Hidayatullah.com–Berbicara pendidikan di Indonesia pasti akan mengkaitkan dengan para pendidik (guru), kurikulum dan para siswanya. Melalui diskusi yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dua tokoh pesantren ternama Indonesia, Direktur Islamic Educational Institution Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan ELM., SE AKT., M.SI dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasy, dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor-Ponorogo, mengkritik istilah pendidikan karakter yang selama ini sering digunakan di Indonesia.

Menurut Fauziah Fauzan, pendidikan karekter harusnya berbasis akhlak. Ia memaparkan penerapan pendidikan karakter berbasis akhlak di pesantren yang dipimpinnya.

“Pendidikan 3 karakter bagi santri yaitu; ahli ibadah akhlakul karimah, kuat dan tegar sebagai mujahid Allah dan cerdas sebagai khalifah,” demikian ujarnya.

Selain itu, di pesantren yang dipimpinnya, ia sudah menerapkan konsep parenting atau sistem asuh. Dari sistem itulah ada tiga belas hal yang dilarang dilakukan oleh guru  kepada santrinya.

“Kita sudah menerapkan konsep parenting atau sistem asuh. Jadi guru dilarang melakukan hal yang membuat memecah harga diri siswa, dilarang memperbandingkan, mempermalukan, menyindir, mencemoohkan, mengancam. Ada tiga belas hal yang dilarang dilakukan atau tidak boleh ada untuk menumbuhkan saling menghargai,” ungkap tamatan Pascasarjana Universitas Indonesia ini kepada peserta yang hadir.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Menurut Fauziah, guru  adalah pengajar dan pendidik. Namun kebanyakan yang sekarang ada di negara ini adalah pengajar bukan pendidik. Padahal yang diperlukan sekarang adalah pendidik.

Sementara Dr. Hamid Fahmy Zarkasy mengkritik penggunaan kata ilmu agama dan ilmu khusus yang selalu dipakai untuk memisahkan pelajaran agama dan pelajaran bukan agama.

“Jadi tidak ada perbedaan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Penggunaan ilmu agama dan umum itu sebenarnya sangat bermasalah. Seharusnya ilmu umum dan ilmu khusus atau ilmu agama dengan ilmu sekuler,” ungkapnya kepada para peserta.

Pendidikan Akhlak

Kepada hidayatullah.com, Direktur Eksekutif Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini mengungkapkan, ada pengaruh globalisasi dan pengaruh liberalisasi dalam sistem pendidikan Indonesia. Pengaruh itu kemudian dampaknya pada orientasi pendidikan. Karena pengaruh globalisasi adalah industrialisasi pendidikan, maka arah pendidikan  akhirnya untuk memenuhi tuntutan industri.

“Maka produknya adalah untuk memenuhi kapangan kerja. Karena untuk lapangan kerja maka nilai-nilai moral yang harus ditanamkan kepada anak-anak itu menjadi terlupakan sehingga orientasi fokus pendidikan itu hanya untuk memberikan skill saja.”

Tidak hanya itu, Hamid juga mengkritik istilah pendidikan karakter karena tidak adanya akhlak dan nilai-nilai tauhid di dalamnya.

“Kalau menggunakan akhlak, di dalamnya pasti adalah pengajara tauhid. Karena dalam akhlak sudah ada karakter sementara dalam karakter tidak ada akhlak. Jadi memang ini terminologi yang sengaja dijual oleh orang Barat yang kita terima begitu saja (taken for granted) tanpa mengkaji dan ini sebenarnya upaya Barat bagaimana pendidikan karakter ini bisa menggeser-menggeser pendidikan agama,” tambahnya.

Menurut Hamid, umat Islam harus waspada terhadap penggunaan-penggunaan istilah. Baginya, kalau orang berkarakter artinya dia tegas, disiplin tanggung jawab. Namun belum tentu dia memiliki akhlak. Namun sebaliknya, jika orang berakhlak dia pasti berkarakter,” demikian jelasnya kepada hidayatullah.com.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhlakold migratepesantren
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kebiasaan Lingkungan Kemenag Tak Ontime Berimbas Kualitas Pelayanan Haji
Tulisan selanjutnya Mahfud MD Menilai Presiden SBY Mendapat Masukan Sesat!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Berita
15 Juli 2026 21:36
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?