Hidayatullah.com– “Jangan pernah menyepelekan mimpi,’’ demikian wasiat Ahmad Fuadi, penulis novel “Negeri Lima Menara” kepada para santri penghafal Qur’an (Santri Tahfidz) di Kebon Maen Bocah, Desa Rawakalong, Gunungsindur, Bogor, Senin sore, 31 Desember 2012.
Santri-santri yang berjumlah 30 anak itu berasal dari Rumah Tahfidz Al-Azmy Kampung Pondokmiri Bogor dan Rumah Tahfidz Daarul Qur’an Ciledug, Tangerang. Didampingi para pembimbingnya, mereka mengikuti “Muhasabah Birrul Walidaini” yang menghadirkan pembicara Ahmad Fuadi, Ustadz Nanang Ismuhartoyo, dan Ustadz Rofiq Lubis.
Fuadi, sang penulis novel, mengungkapkan, ia sering menemui mimpinya jadi kenyataan.
‘’Saya bersyukur, mimpi saya sering jadi kenyataan,’’ katanya.
Misalnya, ia pernah mimpi bermain di bawah hujan kapas putih. Bunga tidur ini benar-benar terwujud ketika suatu hari ia tengah berada di Washington DC, Amerika Serikat.
“Saat itu, malam-malam, dari jendela rumah yang saya tinggali, tiba-tiba saya melihat hujan salju. Saya langsung lari keluar dan menengadah ke langit menyongsong jatuhnya butiran salju yang bagai kapas putih beterbangan,’’ tutur penulis yang pernah menerima 9 beasiswa pendidikan ini.
Pria yang juga pendiri “Komunitas Lima Menara” itu juga mengungkapkan, ketika berkunjung ke luar negeri dari Maroko sampai Yunani, di sana hampir selalu bertemu alumnus pondok pesantren seperti dirinya.
‘’Ketika di Moscow, Rusia, saya pikir hanya saya santri yang bisa sampai di situ. Ternyata saya bertemu anak pondok dari Indonesia juga di sana,’’ ujar suami Yayi sambil tertawa.
Dia bersyukur, semua itu merupakan berkah dari pesantren.
‘’Saya sangat berterima kasih kepada Ibu, yang memaksa saya masuk pondok pesantren. Awalnya saya merasa terpaksa, karena waktu itu nilai sekolah saya bagus dan ingin masuk SMA, tapi malah disuruh melanjutkan ke pesantren,’’ tutur Fuadi yang alumnus Pondok Pesantren Darussalam, Gontor Ponorogo.
Satu nilai yang diperolehnya dari Pondok Gontor adalah pepatah ‘man jadda wa jada’ (siapa yang bersungguh-sungguh, akan kesampaian). Kalimat inilah yang kelak menginspirasi Fuadi untuk menulis Negeri Lima Menara. Novelnya meledak jadi best-seller dan bahkan diangkat ke layar perak, yang membawa Fuadi meraih semua mimpi.
‘’Tidak ada yang mustahil bagi Allah Subhanahu Wata’ala, apalagi sekadar mewujudkan mimpi-mimpi kita. Namun, pikiran dan perasaan kita sendiri yang suka memustahilkan diri kita, sehingga kita selamanya jadi pemimpi. Kita harus man jadda wa jada untuk meraih sukses!’’ Ahmad Fuadi menandaskan.
Ketika diminta Fuadi mengemukakan mimpinya, santri bernama Syauqi dari Pondokmiri menyatakan, ia ingin jadi Hafidz Qur’an dan penemu teknologi canggih.
Mengomentarinya, Fuadi mengatakan, ‘’Kita semua mengaminkan mimpi itu. Tapi adik harus punya gambaran, kira-kira dalam berapa tahun itu akan terwujud. Dua tahun ke depan, lima tahun ke depan?’’
Memberi jalan pada santri untuk meraih cita, pembicara selanjutnya Ustadz Nanang mengungkapkan, PPPA Daarul Qur’an mempunyai program beasiswa santri.
Kata Nanang yang Manager Program PPPA Daqu, ‘’Kalau adik-adik Rumah Tahfidz sudah hafal 5 juz Qur’an, insya Allah bisa masuk Pondok Pesantren Daarul Qur’an gratis. Atau jika sudah mencapai 3 juz, dapat melanjutkan sekolah dan nyantri ke Rumah Tahfidz Daarul Qur’an.’’
Usai berbuka puasa Senin, sholat maghrib berjamaah, makan malam, dan sholat Isya’, acara dilanjutkan dengan menyimak taushiyah birrul walidaini dari ustadz Yusuf Mansur.
Sebagai pengantarnya, Ustadz M Rofiq dari Badan Wakaf Al-Azhar menyampaikan, para santri harus berterima kasih kepada kedua orangtua masing-masing yang sudah melahirkan dan membesarkan mereka.
‘’Tanpa orangtua, kalian tidak akan pernah berada di sini,’’ tandas Ustadz Rofiq. Karena itu, sesuai ajaran Al Qur’an yang sudah dihafal, anak-anak harus berbakti kepada orangtua, baik yang masih hidup maupun sudah tiada.
Tangis para santri tak terbendung, ketika menyimak rekaman suara muhasabah birrul walidaini yang dibawakan Ustadz Yusuf Mansur. Iringan dar-der-dor suara petasan jelang tahun baru 2013 tak mampu menghentikan keharuan dan sesal mereka.
Di penghujung muhasabah, sejumlah santri langsung menubruk orangtuanya yang turut beserta mereka. Adam menangis sesenggukan dalam pelukan ayahnya. Azmiyah berlinang airmata dalam dekapan ibunya. Pun Fadlan dalam rengkuhan bundanya.
Jelang pergantian tahun terpatri dalam hati resolusi para santri Rumah Tahfidz tahun 2013: Lebih banyak menghafal Qur’an dan berbakti kepada orangtua.*/kiriman Nurbowo