Hidayatullah.com– Kondisi perpolitikan Indonesia saat ini telah dikuasai oleh mereka yang memiliki uang. Demikian disampaikan mantan ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir.
Meskipun sudah tiga tahun tidak terlibat politik praktis, ia masih mengikuti hingar bingar percaturan politik Indonesia saat ini. Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah liberalisasi politik.
“Mereka yang punya uanglah yang bisa menjadi presiden,” ungkapnya dalam acara silatuhrrahim Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) di Surabaya (25/08/2013).
Liberalisasi politik ini menurut Sutrisno, akan membuat umat Islam tak lagi menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ummat akan terjajah kembali dengan mereka yang memiliki kekuatan ekonomi.
“Jika dulu kita terjajah oleh firma dagang dari belanda VOC, sekarang pun kita kembali dijajah oleh mereka yang memiliki modal, oleh karena itu umat Islam harus menguasai ekonomi Indonesia,” ujar pria kelahiran Pekalongan 10 April 1957 ini.
Terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat ini, anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah ini juga mengatakan bahwa ekonomi Indonesia telah dikuasai oleh etnis Tionghoa.
“Orang Muslim yang menjadi pengusaha besar bisa di hitung denga jari,” ucap pengusaha property ini.
Karena itu, jika kondisi ekonomi umat Islam masih terus seperti sekarang, maka secara ekonomi akan terjajah.
Ia juga mengatakan, dunia politik pun hakekatnya telah dikuasai oleh mereka non-Muslim yang memiliki kekuatan ekonomi. Hal ini ditandai dengan munculnya calon presiden non Muslim.
“Jika ekonomi dan politik telah dikuasai oleh mereka, membangun peradaban Islam hanyalah sebatas cita-cita,” ucap suami dari Anita Rosana Dewi ini.
Enteprenuer Muslim
Sebagai ketua KB PII pusat ia pun memprogramkan bagaimana Pelajar Islam Indonesia (PII) kedepan melahirkan enteprenuer Muslim.
“Kita harus menyiapkan generasi muda yang berjiwa enteprenuer, agar bisa membangun bangsa dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tuturnya.
Sebagai tanggungjawab aktivis dan terhadap keberlangsungan syiar Islam di negeri ini, membangun generasi yang berjiwa enteprenuer sangatlah penting.
“Saya berharap dari 10 generasi pengkaderan kepemimpinan PII bisa menghasilkan 6 orang pengusaha, sisanya biar menjadi pendidik, guru, dosen dan politik, “ tutupnya.*/Samsul Bahri