Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia membentuk peta dakwah di tingkat nasional, regional, dan global, dalam upaya menyelesaikan masalah nasional dan untuk mempererat persatuan bangsa.
“Pembentukan peta dakwah adalah agenda baru MUI pada 2013, yang sebelumnya tidak ada, karena adanya kondisi bangsa yang mendesak,” ujar Ketua MUI Slamet Effendy Yusuf menjelang penutupan Rapat Kerja Nasional MUI di Jakarta, Sabtu (14/09/2013).
Pada peta dakwah tersebut MUI menekankan beberapa hal dalam dakwah untuk mencapai tujuan nasional, yaitu melihat komposisi persebaran penduduk di Indonesia. Untuk ini Rakernas MUI mendorong program transmigrasi.
“Kami mendorong penyebaran penduduk, diaspora di dalam maupun luar negeri, sehingga rakyat Indonesia bisa berperan dalam terbangunnya peradaban di dunia,” ujarnya.
Kemudian MUI juga akan melakukan pembinaan dakwah secara internal terkait keberagaman agama dan suku yang ada di Indonesia, sehingga dakwah bisa tetap berjalan, namun perdamaian tetap terjaga antarumat beragama.
Slamet mengemukakan, MUI akan melakukan kaderisasi pendakwah dengan menambah pengetahuan mereka tentang ilmu Agama Islam di Indonesia maupun keindahan ilmu Agama Islam di negara lain.
Selain itu, MUI akan melakukan pendekatan kepada masyarakat mengenai pentingnya program Keluarga Berencana (KB), karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan hidup mereka di Indonesia.
“Dengan demikian, masyarakat tidak disibukkan dengan kepadatan penduduk di Indonesia, namun mereka akan lebih menyadari pentingnya KB dari sisi kesejahteraan,” ujarnya, dalam berita Antara.
Slamet menekankan, inti dari peta dakwah yang dibuat MUI tersebut dikaitkan dengan tanggung jawab untuk menjaga dan memperkuat integrasi nasional.
“Hal ini sangat strategis, karena menjadi satu model dakwah yang tetap menjaga hubungan kemajemukan. Jadi, dakwahnya jalan, tapi kerukunan tidak terganggu,” katanya.*