Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Pengamat: Standar Ganda Eropa Protes Ayasofya Jadi Masjid, Padahal Banyak Masjid di Spanyol Diubah Jadi Katedral

Ahmad
Terakhir diupdate: 13 Juli 2020 16:52 4:52 pm
Ahmad
Dipublikasikan 13 Juli 2020 16:40
Bagikan
Pakar Sejarah, Dr Tiar Anwar Bachtiar.
Bagikan

Hidayatullah.com- Pengamat Sejarah dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Dr Tiar Anwar Bachtiar mengkritik sikap standar ganda Barat khususnya Eropa yang memprotes keputusan Turki mengembalikan status dan fungsi museum Ayasofya di Istanbul menjadi masjid.

Penulis buku Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia: kritik-kritik terhadap Islam liberal dari H.M. Rasjidi sampai INSISTS ini menyebut alasan orang-orang Eropa marah atas kembalinya status dan fungsi Masjid Ayasofya.

Sebab, jelasnya, dulu di era Presiden Turki Kemal Attaturk –yang dikenal sekuler–, Ayasofya diubah dari masjid menjadi museum atas permintaan pihak Barat, dalam hal ini Inggris.

“Diubahnya Masjid Ayasofya menjadi museum itu kan atas keinginannya Inggris waktu itu, keinginannya orang-orang Kristen Eropa supaya dia maunya sih diubah lagi jadi Katedral waktu itu. Cuma Mustafa Kemal kan dia menghadapi tekanan juga dari masyarakat. Makanya dia cuma berani untuk mengubahnya menjadi museum dan itu juga suatu kekeliruan karena ini wakaf, wakaf masjid ya bukan untuk museum,” ujar Bachtiar kepada hidayatullah.com, Senin (13/07/2020).

Sehingga, menurutnya, bisa dimaklumi jika orang-orang Eropa tidak suka dengan kembalinya status dan fungsi Ayasofya sebagai masjid di era kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Kita bisa maklum kenapa orang Eropa tidak suka ya dengan itu karena ini simbol, simbol kekalahannya orang-orang Eropa. Jika Ayasofya menjadi masjid itu orang-orang Eropa merasakan bahwa mereka sudah kalah pada titik nadir yang paling rendah,” sebutnya.

Oleh karena itu, lanjut penulis buku Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru (2011) ini, orang-orang Eropa berusaha untuk minimal mempertahankan muka mereka jangan sampai Ayasofya –yang dulunya katedral– lantas diubah jadi masjid oleh Sultan Muhammad Al-Fatih setelah menaklukan Konstantinopel lebih 200 tahun yang lalu.

“Tapi kan itu diabaikan saja oleh Muhammad Al-Fatih untuk menunjukkan bahwa kemenangan (Kesultanan) Utsmani itu sudah sampai pada titik puncaknya memang, dengan mengubah fungsi Ayasofya sebagai katedral menjadi masjid,” tuturnya.

Dosen FEB Universitas Padjajaran (Unpad) ini pun menilai, seharusnya Barat khususnya Eropa tidak perlu memprotes dikembalikannya status dan fungsi Ayasofya sebagai masjid.

“Enggak usah protes karena kelakuan mereka lebih parah. Banyak masjid di Spanyol itu yang tadinya oleh umat Islam selama umat Islam ada di Cordova itu sudah berubah menjadi katedral menjadi gereja dalam jumlah yang lebih banyak,” ungkapnya.

Menurutnya, kalau Eropa mau konsisten soal perubahan status dan fungsi tempat ibadah itu, harusnya mereka mau dan siap atas kembalinya status Ayasofya.

“Kalau seandainya mereka ingin Ayasofya tidak diubah menjadi masjid, misalnya, itu mereka harus lakukan dulu itu banyak masjid yang mereka ubah menjadi katedral, sekarang fungsikan lagi sebagai masjid,” ujarnya.

Tiar mencontohkan seperti yang terjadi di Toledo, Spanyol. Saat itu ada masjid besar yang dibangun oleh Dinasti Umayyah. Saat Toledo ditaklukkan oleh Spanyol, abad ke-11, masjid agung Toledo itu kemudian diubah menjadi katedral.

“Padahal sebelumnya itu ketika penguasa Toledo menyerahkan kawasan Toledo itu kepada orang-orang Kristen, kesepakatannya masjid itu enggak boleh diubah menjadi gereja.

Tapi kesepakatan itu dilanggar kemudian tetap juga sampai sekarang jadi katedral, jadi gereja,” tuturnya.

“Jadi ini nih saya kira standar ganda aja itu orang-orang Eropa,” katanya juga, seraya mengakui bahwa pihak Eropa dalam hal ini tidak berlaku adil. “Mereka mau menang sendiri aja,” sebutnya.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AyasofyaEropaHagiah ShopiahIstanbulMasjid AyasofyaMuhammad al FatihTiar Anwar BachtiarTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya mufti oman Mufti Oman Beri Selamat Erdogan atas Kembalinya Hagia Sopia Sebagai Masjid
Tulisan selanjutnya Profesor Pengkritik Beijing Dibebaskan Setelah Dituduh Menyewa Pelacur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?