Hidayatullah.com- Untuk membangun peradaban Islam harus diidentifikasi berbagai unsur, problema, serta tantangan yang dihadapi. Ketiga hal ini berlaku bagi umat Islam di Indonesia, di antaranya terkait masalah kejujuran. Misalnya budaya menyontek yang masih subur di dunia pendidikan.
Demikian salah satu intisari penyampaian Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il saat menjadi pemateri pada acara “Super Life Revolution” (SLR) Training di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 22 Rabiul Awal 1435 H (25/01/2014).
Menurut Nur Mahmudi, membicarakan masalah jujur itu penting. Namun, mengaplikasikan kejujuran dalam keseharian itu tidak mudah. Ambil contoh saat ujian di sekolah atau perguruan tinggi (PT), selalu ada peserta didik yang menyontek.
“Mengimplementasikan akan sekolahan kita tidak akan ada satu pun murid yang tidak nyontek, untuk mewujudkan di tempat perkuliahan kita tidak ada satu pun mahasiswa yang tidak nyontek, (itu) tidak gampang,” ujarnya di depan 40-an mahasiswa-mahasiswi dari berbagai PT se-Jabodebek.
Di tengah penyampaiannya pada acara gelaran Persaudaraan Dai Indonesia (Pos Dai) – Hidayatullah itu, Nur Mahmudi bertanya kepada sebagian peserta, apakah di PT mereka ada mahasiswa yang menyontek? Semua yang ditanya mengiyakan.
Nur Mahmudi mengatakan, Islam membangun dan mewarnai peradaban dunia hingga sekitar tahun 1900. Setelah itu, perlahan-lahan mengalami penurunan dalam berbagai aspek. Kini saatnya umat Islam khususnya di Indonesia berkompetensi membangun kembali tatanan peradaban yang benar.
Berbagai unsur dalam peradaban saat ini lebih banyak diperbincangkan. Namun, menurutnya, letak problemnya bagaimana menarik masyarakat untuk mengamalkan hal itu.
Inilah yang menjadi tantangan, lanjutnya, apakah kaum Muslimin di Indonesia ini juga akan menjadi salah satu pionir pembangunan peradaban.*