Hidayatullah.com–Jika diberi kesempatan yang sama dengan siswa sekolah umum, para santri memiliki keahlian yang tidak kalah dalam bidang teknologi.
Pernyataan ini disampaikan kandidat doktor bidang sejarah dari Universitas Indonesia (UI), Tiar Anwar Bachtiar dalam diskusi dwi pekanan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) bertema “Institusi Pendidikan Islam di Indonesia Masa Pergerakan Nasional 1905-1942”.
“Lulusan pesantren ini kalau lulus akan luar biasa. Kemampuan intelegensia tidak kalah dengan lulusan SMA. Asal diberi kesempatan,”tukasnya di markas INSISTS, Jalan Kalibata, Jakarta baru-baru ini.
Tiar mengacungi jempol terhadap kebijakan Kementrian Agama (Kemenag) saat dipimpin oleh Muhammad Maftuh Basyuni. Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) periode 2004-2009 itu memiliki kebijakan membolehkan para santri belajar ilmu teknik di perguruan tinggi seperti di ITB dan ITS. Diharapkan para santri bisa ikut berperan di berbagai lini industri.
Sayangnya program pengiriman santri ke sekolah teknik tidak lagi dilakukan. Padahal program itu penjembatan antara lulusan pesantren dengan kebutuhan industri.
Kerja sama pesantren dengan lembaga pemberdayaan masyarakat sudah pernah dilakukan pada zaman Orde Baru.
Pesantren Maslakul Huda pimpinan Kiai Sahal Mahfudz di desa Kajen Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, misalnya berhasil mengenalkan program Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada santrinya.
Mereka dididik dengan mengikuti Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang diselenggarakan LP3ES.
Pesantren Darul Fallah, Bogor juga berhasil mengembangkan ekonomi pedesaan bekerjasama dengan para tenaga ahli pertanian IPB, Bogor.
Pengangguran Nol Persen
Mental tahan banting para santri, sangat membantu mereka ketika terjun di masyarakat. “Terutama santri dari pesantren tradisional. Pada zaman kolonial Belanda, setiap hari mulai jam 7 pagi sampai waktu Ashar, mereka keluar dari lingkungan pesantren, berbaur dengan masyarakat. Ada yang dagang di pasar, ada yang ke rumah-rumah penduduk,”imbuh Ketua Umum Pemuda Persis itu.
Di rumah-rumah penduduk, para santri itu menawarkan jasanya untuk membantu membetulkan keperluan rumah tangga. Keterampilan mereka terasah.
Terlatih menangani berbagai persoalan di lapangan, melatih mental para santri menjadi tahan banting. Itulah mengapa lulusan pesantren tradisional tidak ada yang menganggur karena langsung terserap masyarakat.
Tiar melihat perbedaan itu pada santri pesantren modern saat ini. Sistem pendidikan membentuk mereka banyak berada lingkungan pesantren dalam kesehariannya. Santri lebih banyak belajar ilmu secara teori dalam kelas.
“Itulah kenapa masyarakat berpikir, lulusan pesantren sama saja dengan lulusan sekolah umum, banyak nganggur,”tukasnya.*