Hidayatullah.com–Syeikh Adnan Hasan Husein ternyata sudah begitu akrab dengan santri Pesantren Hidayatullah Surabaya. Meski baru bersama sekitar sepekan, tapi Syeikh berdarah Palestina yang kini tinggal di Suriah ini terasa begitu dekat di hati para santri.
Terbukti, ketika usai mengisi ceramah perpisahan di Masjid Aqshal Madinah-Pesantren Hidayatullah Surabaya, Senin (15/8), untuk kembali ke Suriah, Syeikh murah senyum ini langsung dikerubutin ratusan santri untuk berpelukan dan cium tangan. Bahkan, barisan santri hingga mengular menunggu giliran. Mereka berebut dan berdesak-desakan seolah ingin duluan.
Usai selesai bersalaman, santri pun belum puas. Mereka mengambil al Quran dan meminta agar Syeikh Adnan membubuhkan tanda tangan di al Quran mereka. Tak pelak, Syeikh Adnan pun harus melayani permintaan santri dengan sabar.
“Saya senang sekali dengan Syeikh Adnan. Meski baru sepekan bersama tapi begitu terasa. Saya akan merindukannya terus, terutama bacaan al Qurannya yang indah,” kata M Kamilul Khuluq, santri SMA yang hafal 8 juz al Quran ini.
Dalam ceramah singkat yang diterjemahkan Pimpinan Pesantren, M Nur Fuad, Syeikh Adnan mengatakan, mempelajari al Quran adalah perbuatan mulia. Dan, orang yang terbaik adalah yang mempelajari al Quran dan mengamalkannya. Karena itu, Syeikh yang hafidz al Quran ini berharap agar santri Hidayatullah selalu bersemangat belajar al Quran dan hadist serta mengamalkannya.
Di akhir ceramahnya, ia berdoa kepada Allah agar mempertemukannya kembali dengan para santri. “Semoga Allah pertemukan kita di surga kelak,” harapnya diamini sekitar 400 santri, mahasiswa, dan guru.
Sementara, Nur Fuad berterimakasih atas kedatangan Syeikh dan atas kesediannya membagi ilmu kepada santri. “Kami selaku ketua pesantren berterima kasih dan memohon maaf atas segala kekurangan,” ujarnya.*