Hidayatullah.com—Seringnya melayani perdebatan langsung dengan tokoh Syiah, menjadikan ulama muda NU, Muhammad Idrus Ramli sering dicap dengan sebutan “Wahabi”.
“Saat ini, bagi orang Syiah, yang membongkar kesesatan Syiah langsung dituduh Wahabi. Ini tuduhan sangat tidak beralasan,” demikian disampaikan Ketua Lajnah Ta’lif wa an-Nasyr dan Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU Kencong, Jember, Muhammad Idrus Ramli, saat acara Munas I Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di AQL Center Tebet Jakarta pada Rabu (11/06/2014) kemarin.
Gus Idrus Romli, demikian kiai muda NU asal Jember, ini akrab disapa, menilai perkembangan Syiah saat ini di daerah-daerah dan kampung-kampung perlu dicermati dengan serius.
Ia menerangkan, sesungguhnya argumen kalangan Syiah cukup rapuh. Karenanya, tuduhan dan sebutan “Wahabi” sering dimainkan.
Karena itu, ia berharap MIUMI baik pusat maupun di daerah mencermati kasus-kasus seperti ini dengan serius.
Dua pendekatan Syiah
Menurut Idrus, di daerah terutama di kantong NU, Syiah melalukan pendekatan dua hal; secara finansial dan kultural.
“Dari pengalaman saya, pendekatan Syiah ke NU melalui dua cara, yaitu memberi santunan ekonomi dan cultural,” ujarnya.
Dari pengalaman yang ia dapati, kader-kader Syiah membuat proposal dana ditujukan ke kedutaan Iran. Bahkan, dalam catatan dia, ada juga orang Sunni dimasukkan daftar penerima dana oleh kader Syiah.
Bahkan banyak pula ia dapati kader NU mendaftarkan diri sebagai kader Syiah hanya untuk mendapatkan ‘santunan’ finansial.
“Bagaimana orang kampung tidak tertarik, lha ngaji dikasih uang dan beras. Mereka senang. Padahal tidak tahu apa-apa tentang Syiah,” tambah kiai muda alumni Pesantren Sidogiri, Pasuruan ini.
Selain itu, Syiah mengembangkan cara-cara kultural. Misalnya mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat, lalu mendekati tokoh atau ustadz-nya.
“Tokoh-tokoh kita yang bersikap mendiamkan kekeliruan Syiah. Tidak peduli. Orang Syiah akan mendekati dan memberi puji-pujian berlebihan kepada tokoh tersebut,” tambahnya.
Ia menilai, Syiah berkembang karena ada tokoh Sunni yang suka memu-muji kekeliruan Syiah di hadapan jamaahnya.*