Hidayatullah.com- Dalam rangka menyambut Idul Adha 1435 Hijriyah Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman al-Hakim (STAIL) Surabaya bekerjasama dengan Baitul Mall Hidayatullah (BMH) Surabaya dan Cabang Kediri mengadakan “Safari Dakwah” di wilayah rawan pemurtadan dampak dari bencana Gunung Kelud.
Kegiatan bertajuk “Qurban di Kota Manfaat di Desa, Peduli dan Berbagi Kebahagiaan di Hari Qurban” diadakan di Desa Satak dan Lahar Pang, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.
Sebanyak 26 mahasiswa semester enam diberangkatkan dari asrama kampus Surabaya sejak Jum’at (03/10/2014) hingga Selasa (07/10/2014).
“Sebanyak 13 orang kita tempatkan di Desa Satak yang merupakan lereng Gunung Kelud dan separuhnya lagi kita tempatkan di Desa Lahar Pang 5km di bawah puncak Gunung Kelud,” demikian keterangan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Safari Dakwah, Achmad
Mulyana kepada hidayatullah.com usai pemotongan hewan qurban di masjid Jami’ Miftahul Iman Desa Satak, Ahad (05/10/2014).
Menurut penuturan Mulyana, kegiatan Safari Dakwah merupakan agenda rutin tahunan yang diadakan oleh STAIL Surabaya untuk
mahasiswa semester enam dalam rangka menyambut hari raya Idul Qurban dan berbagi daging qurban kepada masyarakat khusunya di pelosok desa.
Selain itu, lanjut Mulyana, kegiatan itu merupakan sarana untuk menjalin silaturahmi dengan masyarakat serta pelatihan untuk mengasah mental dan kemampuan sebelum mahasiswa STAIL Surabaya benar-benar ditugaskan langsung ke seluruh pelosok negeri setelah menyelesaikan masa studinya.
“Untuk tahun 2014 bertepatan dengan 1435 Hijriyah ini kita pilih Safari Dakwah di wilayah dampak bencana Gunung Kelud sebab di sini merupakan wilayah yang sangat rentan dengan gerakan pemurtadan,” tegas mahasiswa jurusan dakwah.
Mulyana menuturkan melalui kegiatan Safari Dakwah di wilayah dampak bencana Gunung Kelud kurang lebih selama empat hari. Setidaknya bisa memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya Aqidah Islam serta mewaspadai gerakan kristenisasi yang tanpa disadari telah masuk dan mempengaruhi mereka (masyarakat Desa Satak.red).
“Sangat disayangkan sekali dari Kepala Desa, Kepala Dusun dan RT di Desa Satak ini semuanya adalah orang Nasrani. Kami berharap dengan adanya realita ini menjadi perhatian untuk seluruh umat Islam, khususnya para Da’i baik dari ormas Islam manapun untuk mengambil peran,” ujar Mulyana kepada hidayatullah.com sembari menyampaikan harapan besarnya kepada para Da’i di Indonesia.
Sementara itu, Seno salah satu warga mengungkapkan bahwa salah satu cara yang digunakan oleh para misionaris dalam gerakan pemurtadan adalah melakukan kegiatan rutin bergilir. Seno menyebutnya seperti pengajian yang dilakukan oleh masyarakat Islam.
Dari kegiatan itu, lanjut Seno, anak-anak kecil dari warga muslim diajak untuk menghadiri kegiatan rutin bergilir. Kemudian oleh para misionaris diberikan beberapa bingkisan untuk hadiah hingga mampu mempengaruhi kedua orang tua anak-anak itu untuk ikut bergabung menghadiri kegiatan.*/Achmad Fazeri