Hidayatullah.com- Film “King Suleiman” yang kini berubah menjadi “Abad Kejayaan” tersebut, sebetulnya tidak terlihat jika ada upaya untuk mendistrosikan sejarah Islam.
Demikian keterangan yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU, al-Zastrow Ngatawi, Si dalam acara diskusi budaya yang bertajuk “Abad Kejayaan: Antara Fiksi, Agama dan Sejarah” di Aula Lantai 5 Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jum’at (22/01/2015) Siang.
“Sebelum menilai lebih jauh lagi, kita perlu lebih dahulu mendudukan posisi film tersebut. Apakah ia termasuk film dokumenter sejarah atau drama fiksi semata,” ujar Zastrow.
Menurut Zastrow, ada perbedaan antara film drama fiksi dengan dokumenter sejarah. Film dokumenter sejarah, lanjutnya ialah film yang mengutamakan ontentisitas dan validitas data sejarah yang bisa dijadikan sebagai rujukan.
Sementara itu, film “King Suleiman” menurut Zastrow bukan film dokumenter sejarah, tetapi lebih pada film drama fiksi yang berlatar sejarah Islam. Sebab, banyak unsur dramatic yang fiktif dalam tayangan film tersebut.
“Jadi, bisa kita lihat film “King Suleiman” tidak tampak ada upaya ingin mendistorsikan sejarah. Karena film itu film dramatic fiktif yang tidak bisa dijadikan sebagai rujukan,” pungkas Zastrow.
Supaya tidak terjadi kesalah pahaman di antara masyarakat, Zastrow menghimbau kepada pihak stasiun yang menayangkan film tersebut harusnya memberikan penjelasan baik di awal atau di akhir penayangan. Jika film “King Suleiman” adalah film drama fiksi, bukan film dokumenter sejarah.
“Selain itu, adegan-adegan vulgar yang dapat menimbulkan kontroversi masyarakat juga harus disensor oleh pihak stasiun yang menayangkan,” imbuh Zastrow.
Sementara itu, menurut penulis buku-buku sejarah Islam, M Nuhgra justru melihat lain. Ia mengatakan tayangan film “King Suleiman” sebaiknya dihentikan sebab minus dengan nilai yang bersifat positif.
“Sebuah film harus membawa nilai, budaya dan pemikiran. Nah, film itu (King Suleiman.red) bawaannya minus dari nilai yang bersifat positif,” kata Nughra kepada hidayatullah.com.
Senada dengan Nughra, penulis buku Shalahuddin Al Ayyubi dan Perang Salib III mengakatakan film ini justru dipenuhi dengan intrik dan tak sesuai dengan karakter Sultan Sulaiman itu sendiri. Ia mendukung film ini tidak ditayangkan.*