Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Pengangkatan Anak Perempuan Sultan Hamengkubuwono Sebagai Putra Mahkota Dinilai Dominan Nuansa Politis

Ahmad
Terakhir diupdate: 7 Mei 2015 18:18 6:18 pm
Ahmad
Dipublikasikan 7 Mei 2015 18:18
Bagikan
Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menguncapkan Sabda Tama di Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta. Beberapa sabda Raja yang diucapkan Sri Sultan yakni, menghapus gelar Khalifatullah dan megukuhkan GKR Pambayun sebagai Putri Mahkota
Bagikan

Hidayatullah.com- Pemerhati Sejarah Jawa dan Islam, Susiyanto menilai Sabda Raja yang dikeluarkan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, terasa dominan nuansa politisnya terutama soal pengangkatan anak perempuan (putri Sultan, red) sebagai putra mahkota.

“Ratu yang terakhir ini tampaknya memang ingin lebih dikenal masyarakat umum sebagai “pribadi kerajaan”. Saya melihat kayaknya Sultan ini agak kalah dengan istrinya. Jadi, kebijakan-kebijakan resmi kebanyakan muncul dari istrinya,” demikian penilaian Susiyanto yang diungkapkan kepada hidayatullah.com, saat dihubungi Kamis (07/05/2015).

Menurut pengamatan Susiyanto sebelum (Sabda Raja) keluar, kraton lebih dulu mengeluarkan yang namanya Sabda Tama yang mana kedudukannya lebih rendah dibanding dengan Sabda Raja. Jadi, lanjutnya, sebelum itu di kalangan kraton sendiri memang sudah ada perbincangan tentang siapa yang akan menjadi putra mahkota.

“Kedudukan putra mahkota itu seharusnya jatuh pada adek laki-laki sultan, missal di antaranya Prabu Kusumo. Jika, saya perhatikan sepert itu,” kata Susiyanto.

Namun, lanjut Susiyanto, pembicaraan tentang putra mahkota tersebut diputus begitu saja dengan dikeluarkannya Sabda Tama. Sementara, arah selanjutnya setelah Sabda Tama dikeluarkan semakin mengerucut dengan dikeluarkannya Sabda Raja.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Di mana poin-poin di dalamnya seperti gelar Khalifatullah dan seterusnya itu mulai diganti. Sepertinya memang ada arah bahwa kraton Jogja akan menerima raja seorang perempuan,” tegas Susiyanto.

Selain itu, Susiyanto menuturkan dalam Dhawuh Dhalem Nomor: 1/DD/HBX/Ehe-1932 yang dikeluarkan oleh Sultan Hamengku Buwono X tanggal 8 November 1999 dinyatakan bahwa visi kraton adalah melestrikan dan mengembangkan ajaran budaya berdasarkan al-Quran dan Hadits.

“Kerajaan tersebut merupakan kelanjutan dari kerajaan Mataram Islam. Untuk itu, dalam hal kekuasaan seorang sultan mestinya seorang lelaki,” kata Susiyanto kepada hidayatullah.com saat menanggapi poin-poin yang terdapat dalam Sabda Raja Kraton Yogyakarta, Kamis (07/05/2015).

Susiyanto juga mengungkapkan isu krusial yang mengemuka dalam Sabda Raja tersebut berkaitan dengan perjanjian pendiri Mataram antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring. Janji ini, menurutnya, berkaitan dengan keturunan dari kedua belah pihak yaitu keturunan Pamanahan sebagai raja dan putri keturunan Giring sebagai permaisuri yang mendampingi.

“Di sini ketetapan awal kraton menunjukkan bahwa raja mestinya adalah lelaki, bukan perempuan,” tegas Susiyanto.

Dalam filosofi Jawa, lanjut Susiyanto, mestinya berlaku “sabda brahmana raja tan kena wola-wali, pindha we kresna tumetes dalancang seta” artinya sabda seorang ulama dan raja mestinya dipegang teguh dan tidak mencla-mencle. Sebab, mereka harus menjadi “pandoming bebrayan” (pedoman dan keteladanan bagi masyarakat).

“Jika mereka tidak teguh dalam sebuah pendirian maka bisa dipastikan masyarakat akan kehilangan kiblat kepemimpinan,” ujar Susiyanto.

Perkataaan raja atau ratu ini, menurut Susiyanto, mestinya seperti tinta hitam yang menetes di atas kertas putih (we kresna tumetes ing dalancang seta), sehingga menjadi sesuatu yang seharusnya sulit untuk diubah.

“Itu merupakan filosofi orang Jawa agar pemimpin umat selalu berhati-hati dalam ucapannya sehingga tidak menyesatkan,” pungkas Susiyanto.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wajah Cantik dan Rupawan Tak Selalu Menguntungkan
Tulisan selanjutnya Sabda Raja, Eksistensi Panatagama dan Nasib Gelar Khalifatullah [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?