Hidayatullah.com- Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman, M.Psi mengungkapkan sederet data dan fakta tentang kejahatan seksual yang kerap menimpa anak-anak di Indonesia. Data ini merupakan hasil analisis isi dari berita online yang berhubungan dengan kejahatan seksual terhadap anak.
“Selama kurun waktu satu tahun 2014 kejahatan seksual terjadi di 34 provinsi dengan jumlah kasus sebanyak 909 kasus (sumber dari berita online.red). Jenis kejahatan tertinggi adalah perkosaan 340 kasus dan pencabulan 254 kasus,” papar Elly saat menjadi pembicara dalam acara diskusi bertema “Problematika Akhlak dan Pendidikan Dalam Keluarga Indonesia” di Gedung Menara 165 ESQ Jalan Tb. Simatupang, Cilandak, Jakarta, belum lama ini.
Diskusi tersebut merupakan serangkaian acara Trainning Of Trainer (TOT) Da’i Tingkat Nasional Angkatan Kedua yang diselenggarakan oleh Pusat Dakwah Dan Pendidikan Akhlaq Bangsa (PDPAB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Gedung Menara 165 ESQ Jalan Tb. Simatupang, Cilandak, Jakarta, mulai sejak 25 hingga 30 Mei 2015.
Elly juga dikenal sebagai psikiater ini memaparkan kategorisasi para pelaku kejahatan seksual selama setahun 2014 dengan perincian sebagai berikut; pelaku dari kalangan guru terjadi di 27 provinsi, pelaku dari kalangan anak usia tingkat SMP dan SMA terjadi di 26 provinsi, kasus seks suka sama suka yang dilakukan anak usia tingkat SMP dan SMA terjadi di 11 provinsi serta kasus seks yang dilakukan anak usia tingkat SD terjadi di 24 provinsi.
“Untuk kejahatan seksual di sekolah tahun 2014 sebanyak 58 kasus yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan kasus terbanyak yaitu pencabulan dan perkosaan,” ujar Elly.
Ini belum masuk kasus kejahatan seksual yang dilakukan melalui hubungan sedarah (incest), yang menurutnya sudah terjadi di 25 provinsi di Indonesia.
“Kasus kejahatan seksual lainnya seperti incest terjadi di 25 provinsi (2014) seks dengan binantang terjadi di 4 provinsi (2013-2014), kehamilan di luar nikah terjadi di 24 provinsi (2014), aborsi terjadi di 18 provinsi (2014), dan pembuangan bayi terjadi di 17 provinsi (2014),” imbuh Elly.
Dari analisis data itu, Elly menilai bahwa bencana atau musibah besar yang ia sebut dengan istilah “tsunami jiwa” sedang melanda bangsa Indonesia saat ini, khususnya dalam setiap keluarga.
“Tsunami jiwa sedang melanda keluarga kita saat ini. Saya prihatin dan menangis melihat kondisi anak-anak kita seperti saat ini,” demikian Elly mengungkapkan keprihatinannya.*