Hidayatullah.com–Terkait “Buku Pembangunan Karakter” milik Yayasan Al-Kahfi yang digunakan dalam program pembangunan karakter pelajar oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta, mendapat sorotan dari anggota DPRD DKI Jakarta.
Salah satunya, anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta yang membidangi Pendidikan Tubagus Arif mengatakan, seharusnya buku yang digunakan dalam membentuk karakter pelajar harus melalui kajian yang mendalam oleh lembaga formal seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Sudah semestinya buku tersebut harus dikaji oleh MUI, sehingga buku tersebut dapat dipertanggung jawabkan dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” kata pria yang juga Sekretaris Umum DPW PKS DKI Jakarta ini dalam rilisnya pada hidayatullah.com.
Sebelumnya, Tubagus Arif mengundang Dinas Pendidikan dan Yayasan Al-Kahfi untuk dimintai penjelasan tentang buku tersebut, di Gedung DPRD DKI Jakarta membahas masalah ini.
Selain itu, Tubagus melanjutkan, harus memiliki legalitas yang diberikan oleh MUI. Buku yang akan diedarkan tersebut juga harus mencantumkan sumber rujukan-rujukan yang digunakan dalam menyusun buku tersebut.
“Karena ini menyangkut karakter anak bangsa, semua harus jelas dan dapat dipertanggung jawabkan,” tegas politisi PKS dari daerah pemilihan Jakarta Utara III.
Disisi lainnya, Tubagus juga menyoroti agar ditambahnya jam pelajaran agama. Pelajaran agama yang hanya dua jam dalam sepekan dinilai sangat kurang jika tujuan dari pendidikan adalah membentuk individu yang lebih berkarakter dan lebih bermoral.
“Tidak mungkin mencetak individu yang berkarakter dan bermoral itu, mendapatkan porsi pengajaran pendidikan agama hanya dua jam dalam sepekan, saat ini sudah seharusnya ditambah,” pungkasnya.*