Hidayatullah.com–Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Selatan Abdul Aziz Kahar Muzakkar hari Kamis (31/12/2015) resmi menyabet gelar doktor bidang pendidikan Islam di hadapan dewan penguji Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.
Aziz Kahar berhasil mempertahankan disertasi yang berjudul “Konsep Pendidikan Jiwa dalam Perspektif Hamka dan Aplikasinya dalam Membangun Jiwa Bangsa” usai melewati sidang terbuka, sidang terbuka diketuai langsung oleh Rektor UIKA, Dr. H. Ending Bahruddin.
Selain itu tampak hadir para promotor dan tim penguji, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, Dr. Adian Husaini, Dr. Ulil Amri Syafri, Dr. Ibdalsyah, dan Dr. Hasbi Indra.
Dalam sidang tersebut, Aziz dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan” sebagai lulusan doktor pendidikan Islam UIKA yang ke-103.
Dalam penelitiannya, Aziz mengungkap, membangun bangsa Indonesia harus diawali dengan mengenal sejarah bangsa terlebih dahulu. Terutama mengkaji peran dan pemikiran para tokoh Islam ketika merumuskan konsep dasar dan tujuan bangsa ini.
“Di sinilah pentingnya menggali pemikiran Buya Hamka, seorang tokoh bangsa yang pemikirannya dikenal banyak terkait dengan pendidikan jiwa,” ucap Aziz yang juga calon Wakil Gubernur Sulsel pada Pilkada tahun 2013 tersebut.
Menurut Aziz, mengurai persoalan bangsa ini harus dikembalikan kepada akar masalah yang benar. Sebab ia tak cukup hanya dengan membangun fisik di mana-mana dan melupakan unsur lainnya yaitu membangun jiwa bangsa.
“Berbagai persoalan moral dan krisis adab hari ini disebabkan karena jiwa bangsa yang kering dari sentuhan agama,” papar Aziz menerangkan.
Lebih jauh, Aziz juga berharap agar tidak lagi membenturkan agama dengan Pancasila. Sebab yang merumuskan dasar negara tersebut tak lain adalah para pemimpin bangsa yang notabene adalah tokoh-tokoh Muslim dahulu.
“Cuma yang perlu diluruskan adalah memahami Pancasila tersebut sesuai dengan pandangan Muslim, bukan pandangan sekular apalagi anti agama,” ungkap Aziz.
“Dasarnya jelas, Sila Pertama Ketuhanan yang Mahaesa. Untuk itu mari bangun bangsa Indonesia secara bersama-sama, bukan justru untuk dijauhi apalagi dibenci,” imbuh Aziz kembali.
Dalam kesempatan sama, Prof. Didin menyambut baik dan mengapresiasi disertasi Aziz Kahar yang dianggapnya sebagai sebuah terobosan baru dalam mengurai persoalan bangsa.
Prof. Didin bahkan mengusulkan agar konsep dan silabus pendidikan jiwa ini diberi nama “Konsep Pembangunan Jiwa Merdeka”.
“Setelah itu, silakan tawarkan ke setiap calon anggota dewan nanti. Kalau perlu, semua calon harus lulus pendidikan jiwa dulu baru bisa jadi anggota dewan,” ucap dekan Pascasarjana UIKA Bogor tersebut.*/Masykur