Hidayatullah.com- Pengamat Kontra Terorisme Drs. Sapto Waluyo, MSc mengatakan insiden di kawasan Thamrin menunjukkan kegagalan operasi, meskipun ada yang menilai bahwa pelaku kelompok terlatih.
“Tapi, target mal atau kafe tidak terjadi. Bom meledak membunuh pelaku sendiri, bukan bunuh diri yang menyebabkn korban. Di situ, kita melihat pelakunya tak menguasai medan,” kata lulusan Nanyang Technological University (NTU), Singapura ini melalui pesan singkat saat dihubungi hidayatullah.com, Kamis (14/01/2016) kemarin.
Lebih lanjut, dikatakan Sapto, aksi juga dilakukan siang hari dan di tempat keramaian, artinya itu pelaku ingin memperlihatkan penyampaian pesan terbuka, dan tidak hendak ditutup-tutupi. Menurutnya, soft target (tempat keramaian), bukan hard target (fasilitas strategis) sehingga menimbulkan efek ketakutan publik.
“Soal pelaku dan motif, kita tunggu penjelasan dari aparat,” imbaunya.
Tapi, lanjutnya, Kepala BIN ada di lokasi saat insiden berakhir. WakaPolri dan Panglima TNI juga sidak bersama MenkoPolkam. Insiden yang gagal direspon oleh petinggi, bahkan Presiden RI dalam kunker di Jabar ikut membuat konperensi pers.
Dikatakan Sapto, menurut WakaPolri, rencana aksi sudah disiapkan akhir Desember, ada penyergapan di beberapa kota yang menggagalkan “konser bom”. Bahkan, disebut ada “kelompok Solo”, padahal kenyataannya Densus 88 justru terbukti salah tangkap.
“Terlalu dini atau lemah untuk menunjuk pelaku jaringan ISIS, yang terkait elemen luar negeri,” ujar penulis buku “Kontra Terorisme, Kebijakan Indonesia di Masa Transisi” (2009) ini.
Menurut Sapto, insiden 14 Januari 2016, berbeda dibanding bom pada malam Natal (24 Desember 2000), saat Presiden Abdurrahman Wahid berkuasa. Padahal waktu itu, katanya, pelaku jaringan domestik di mana setiap aksi teror dipengaruhi oleh situasi domestik.*