Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Penjara Iran Pasca Revolusi [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Januari 2016 10:38 10:38 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Januari 2016 10:38
Bagikan
Ilustrasi: Tahun-tahun terakhir menjelang revolusi Iran, kekuatan keamanan Shah menampakkan sikap yang semakin keras, khususnya terhadap tawanan
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Alwi Alatas

 

Antara Juni dan November 1981, Pengadilan Revolusi mengeksekusi mati 2.665 tahanan politik, sebagian besarnya dari kalangan Mojahedin Khalq yang sebelumnya sempat berusaha menjatuhkan pemerintah. Pada pertengahan 1983 jumlah yang mati bertambah menjadi 5.000 dan dua tahun berikutnya menjadi 12.500. Ini berdasarkan data yang dikumpulkan oleh kelompok tersebut. Sekitar tiga perempat dari angka itu mati melalui eksekusi, 4% karena disiksa, dan 22% mati lewat konfrontasi bersenjata. Hanya sebagian kecil eksekusi mati yang dilakukan di tempat terbuka. Sebagian besar yang dieksekusi mati adalah anak-anak muda, alumni sekolah menengah dan universitas (Abrahamian, 1999: 129-130).

Bersamaan dengan itu, pemerintah Iran menghidupkan kembali sistem interogasi di penjara dan membentuk sistem pengadilan baru yang sepenuhnya diisi oleh kaum agamawan. Abrahamian (1999: 132-133) kemudian menulis:

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Para mullah yang melakukan interogasi dapat melakukan tujuh puluh empat kali cambukan yang berulang tanpa batas sampai mereka mendapatkan “jawaban yang jujur”…. Para tahanan diberikan pertanyaan-pertanyaan. Kalau jawaban-jawaban mereka tidak memuaskan, mereka dapat secara legal dicambuk karena “berbohong”. Secara teori, hukuman ini seharusnya dilakukan setelah hukum pengadilan yang patut menemukan bahwa mereka bersalah atas sumpah palsu. Namun batas antara interogasi dan pengadilan tidak jelas karena para mullah yang sama mengenakan tiga serban yang berbeda – jaksa penuntu, hakim, dan interrogator. Menurut hukum yang baru, para interrogator dengan mandat teologi yang pantas berhak memberi cambukan sampai si tersalah “mengakui kebenaran.”

Penjara-penjara diperluas, dan jumlah tahanan yang ada masih melebihi daya tampungnya. Penjara Evin yang dibangun hanya untuk menampung sekitar 1.500 tahanan pada masa Shah, pada masa Khomeini digunakan untuk menampung 15,000 tahanan. Evin menjadi penjara tempat para tahanan menanti saat-saat diadili, untuk kemudian dipindahkan ke penjara Qezel Hesar atau Gohar Dasht. Kadang tahanan menghabiskan seluruh masa hukumannya di Evin. Sejak pertengahan 1981, saat dimulainya eksekusi dalam jumlah besar, yang menjadi kepala penjara Evin adalah Asadollah Lajevardi yang belakangan dikenal sebagai “Si Penjagal dari Evin”. Ia memimpin penjara itu selama beberapa tahun.

Pemerintah Iran juga menerapkan kembali penyiksaan di penjara untuk mendapatkan informasi dari tahanan dan untuk memperoleh pengakuan kesalahan secara publik (public recantation). Konstitusi Iran yang baru melarang shekanjeh, tetapi membolehkan hukuman fisik melalui Hukum Ta’zir. Keduanya dianggap berbeda oleh pemerintah Iran. (Abrahamian, 1999: 135-138).

Banyak tahanan yang akhirnya dibebaskan memilih menjadi pelarian politik ke negeri-negeri Barat, dan dari mereka didapatkan kesaksian tentang kasus-kasus penyiksaan di penjara ini, dan kadang tentang beberapa petugas di penjara yang terlibat. Para petugas penjara ini biasanya melakukan interogasi dengan penutup kepala, tetapi kadang penutup kepalanya dibuka sehingga wajah mereka dapat dikenali. Di antaranya terdapat wajah yang dikenali oleh sebagian tahanan sebagai Ahmadinejad, yang selama bertugas di penjara menggunakan nama samaran “Golpa” atau “Mirzaiee”. Ketika itu ia merupakan personel intelijen yang ditugaskan di penjara untuk mendapatkan informasi tentang struktur organisasi Mojahedin Khalq. Seorang tahanan bercerita:

“Setelah beberapa hari saya dibawa ke Section 4. Ketika itulah saya disiksa dan diinterogasi oleh ‘Fakoor’, kepala Section 4, dan ‘Golpa’ atau Mahmoud Ahmadinejad…. Setiap kali kain penutup mata saya jatuh setelah dicambuk dengan kabel, saya akan melihat wajah Ahmadinejad bersama dengan beberapa penyiksa lainnya. Setiap kali itu juga mereka akan mengikat kembali kain penutup mata dengan lebih kuat dan melanjutkan cambukannya” (Jafarzadeh, 2007: 13-14)

Tahanan juga disiksa untuk direkam pengakuan bersalahnya, atau kadang disebut sebagai “wawancara”, paling sering dengan cara dicambuk, tetapi ada juga yang diputar lengannya hingga patah, dimasukkan benda tajam di bawah kukunya, disundut dengan rokok, dan ditenggelamkan ke dalam air. Sebagian ada pula yang dimasukkan ke dalam peti mati dalam keadaan ditutup matanya dan hanya dikeluarkan dua kali lima belas menit sehari untuk makan dan buang air. Kadang ini berlangsung selama lebih dari sebulan hingga si tawanan mau memberikan pengakuan bersalahnya. “Sedikit yang menolak wawancara dan tetap waras,” tulis Abrahamian (1999: 139).

Tidak semua tahanan terlibat secara langsung dalam aksi terorisme atau memberontak terhadap pemerintah. Kadang mereka ditahan hanya karena saudaranya merupakan anggota organisasi terlarang, karena menyebarkan media milik organisasi tersebut, atau karena melakukan demonstrasi terhadap pemerintah. Ada juga kalangan pendukung pemerintah serta ayatollah lainnya yang kemudian mengalami nasib serupa disebabkan protes dan penentangannya terhadap kebijakan pemerintah atau karena alasan lainnya, dan ini masih berlangsung sampai era berikutnya selepas Khomeini.

Arash Honarvar Shojayee, seorang mullah dan bloger yang menentang pemerintah dan dituduh “menyebarkan dusta” oleh pemerintah Iran sempat diwawancarai oleh International Campaign for Human Rights in Iran (3 Juli 2012). Ia mengaku dipukuli di penjara sampai mengalami epilepsi. Istrinya juga ikut ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Iran.

Seorang ayatollah lainnya, Hossein Kazemeini Boroujerdi, menolak penerapan wilayatul faqih di Iran dan menentang pemerintah Iran serta menyebutnya sebagai “totaliter” dan “diktator yang korup”. Ia melakukan perlawanan lewat ceramah dan tulisan, tetapi kemudian ditangkap, dimasukkan ke penjara Evin, dan mendekam di dalamnya selama lebih dari sepuluh tahun. Sebuah website yang dibuat oleh para pengikutnya untuk menginformasikan tentang keadaan Boroujerdi, yaitu bamazadi.org (8 Oktober 2015) menyebutkan bahwa selama berada di penjara ia mengalami “penyiksaan psikologis, fisik, dan yang berkaitan dengan keluarga”. Empat tahun sebelumnya, PBB (19 Oktober 2011) telah meminta agar Boroujerdi diberi akses kesehatan dan segera dibebaskan. Tapi Boroujerdi tetap mendekam di penjara, tampaknya sampai hari ini. *(BERSAMBUNG)

Penulis buku Shalahuddin Al Ayyubi dan Perang Salib III

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:iranpenjarapenyiksaanrevolusi iransavakShah Reza Pahlevishekanjehsyiah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gafatar Reinkarnasi Al-Qiyadah Al-Islamiyah?
Tulisan selanjutnya Sapto: Terlalu Dini Menunjuk ISIS Sebagai Pelaku Insiden Thamrin

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?