Hidayatullah.com– Bertahun-tahun yang lalu bangsa Indonesia telah ditindas dengan ketidakadilan, kemiskinan, perbudakan, dan pembodohan. Itulah yang dirasakan oleh rakyat dulu.
Saat ini pun, setelah 71 tahun Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, masih terjadi penindasan serupa dalam konteks kekinian. Demikian pernyataan Syarikat Islam Indonesia (SII) kepada hidayatullah.com dalam siaran persnya, baru-baru ini.
Ahad lalu, 11 Dzulqa’dah 1437 H (14/08/2016), SII menggelar acara Silaturahim dan Puncak Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur National Congres Central Sarekat Islam.
Ribuan kader dan simpatisan SII se-Indonesia memadati GOR C-Tra, Kota Bandung, Jawa Barat, mengikuti acara yang bertemakan “Hijrah Untuk Negeri” ini.
Ada beberapa makna hijrah dimaksud. “(Di antaranya), hijrah dari demokrasi liberal menjadi syuro,” ujar Presiden LT SII Muflich Chalif Ibrahim. [Baca juga: Doa yang Menghebohkan: Jauhkanlah Indonesia dari Pemimpin Khianat!]
Kerisauan SII
Menurut SII, kondisi perpolitikan bangsa saat ini sedang rancau. Terlihat dari para politikus berjubah kekuasaan yang tampak rakus, menguras uang rakyat pribumi.
Terlihat sekarang, ungkap SII, berbagai monopoli di negeri ini dipegang bukan oleh kekuatan bangsa Indonesia. Tetapi dipegang dan dikuasai oleh bangsa asing dan keturunan asing.
Sehingga, menurutnya, pribumi Indonesia yang merupakan setidaknya 90 persen penduduk Indonesia, dalam keadaan terjajah ekonominya.
Sementara kongkalikong, ungkapnya, menjadi ritual ketika sang penguasa memakai pakaian kekuasaan serta memperlihatkan kecongkakan dan kesombongannya.
Lebih parah lagi, dalam pandangan SII, kondisi sosial bangsa saat ini mengalami degradasi moral. Terbukti, begitu maraknya kasus pelecehan seksual, pembunuhan, pemerkosaan, perjudian, penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Ir Soekarno, diyakini SII sebagai cikal-bakal dari buah perjuangan mendirikan zelfbestuur. Sebuah amanah yang diterimanya dari guru sekaligus mertuanya, HOS Tjokroaminoto.
Dalam kondisi kekinian, 17 Agustus sering diproklamirkan sebagai perayaan tahunan. Tetapi tidak menjadi perjuangan yang baru, hanya bak perayaan semata (simbolis), demikian kerisauan SII. [Baca juga: Ini Salinan Lengkap Doa Menghebohkan di Sidang Paripurna MPR [1]]*