Hidayatullah.com– Anak yang berpindah kegiatan dari bersekolah menjadi pekerja dinilai rentan menjadi korban perdagangan orang. Termasuk anak-anak terdampak bencana.
Hal itu diingatkan oleh Kepala Bidang Pemantauan dan Kajian Perlindungan Anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Amsyarnedi Asnawi, dalam rilisnya kepada hidayatullah.com di Jakarta, Senin (26/09/2016).
Sewajarnya, kata Amsyarnedi, anak-anak tidak didorong untuk menjadi pekerja. [Baca juga: LPA Indonesia: Ada Potensi Perdagangan Anak Pasca Bencana Alam]
Namun, hal itu dinilai memungkinkan terjadi pada situasi (pasca) bencana saat sarana-prasarana sekolah belum dapat dipulihkan. Sementara keluarga kehilangan sumber daya finansial untuk menopang pendidikan anak-anak.
Jika demikian, saran LPA Indonesia, dunia usaha dapat menggiatkan inisiatif-inisiatif berupa pengadaan pekerjaan yang memungkinkan anak-anak putus sekolah memperoleh pelatihan kerja.
“Dan (sebaiknya) bekerja di lingkungan mereka sendiri, dengan tetap mengacu pada ketentuan yang ada. Itu dimaksudkan untuk memperkecil potensi migrasi di kalangan anak-anak putus sekolah,” ujarnya.
Menurut LPA Indonesia, dunia usaha sepatutnya turut terpanggil untuk mengaktivasi program tanggung jawab sosial mereka di bidang perlindungan anak, termasuk penanganan anak-anak dalam situasi bencana.
Selain hal itu, Amsyarnedi mengatakan, semua kalangan juga berkepentingan untuk membuktikan bahwa anak-anak lebih tepat disebut sebagai penyintas bencana dibanding sebagai korban.
“Mereka, anak-anak di kawasan yang diterjang bencana alam, adalah penyintas cilik yang berdaya inspirasi bagi orang-orang dewasa untuk selekasnya memulihkan Garut dan daerah-daerah lain yang juga terpapar bencana alam,” pungkasnya.
Banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Garut dan Sumedang, Jawa Barat, pekan lalu. Sebanyak 2.200 anak sekolah dasar, menengah, maupun atas sederajat menjadi terdampak bencana di Garut, sehingga mereka membutuhkan seragam dan peralatan sekolah.
Banjir juga menyebabkan 8 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di Garut rusak. [Baca juga: Memulihkan Garut]*