Hidayatullah.com– Menjadi seorang dai butuh kearifan. Sebab ia bukan hanya membawa nama pribadi atau kelompok dakwah, tapi juga mengusung agama Islam.
Pernyataan itu disampaikan oleh Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi dalam acara Wisuda dan Penugasan Dai Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur, baru-baru ini.
Menurut Rizal, dengan adanya penugasan dakwah, para wisudawan tersebut tak boleh berhenti belajar dan mengembangkan diri. Sebab belajar di lapangan berbeda kondisinya ketika masih belajar di kampus.
“Di lapangan, orang itu berhadapan langsung dengan masyarakat, jadi tantangannya lebih berat lagi, ” ucap Rizal di hadapan 83 wisudawan/wisudawati angkatan IX dan X perguruan tinggi (PT) itu.
Dalam acara itu, Rizal juga berpesan kepada para alumni untuk mengambil peran aktif dan berkontribusi dalam menjaga keutuhan NKRI.
“Alumni STIS harus menjadi dai sarjana penggerak umat dan pelopor pembangunan,” papar Rizal kembali.
Jangan sampai, lanjut wali kota dua periode tersebut, urusan agama dibenturkan dengan persoalan kebangsaan.
“Kita semua sepakat penegakan akidah tapi tidak boleh dengan cara anarkis,” ungkap Rizal sambil mengapresiasi sikap umat Islam selama ini.
Pengabdian Dakwah
Diketahui, untuk mengikuti prosesi wisuda, para wisudawan/wisudawati PT itu sebelumnya harus menempuh masa pengabdian dakwah di berbagai daerah.
Hal ini dimaksudkan agar prosesi tersebut tak hanya berupa formalitas akademik semata, tapi juga merupakan penghargaan atas kiprah nyata mereka di lapangan.
“Iya ini juga jadi keunikan bagi lulusan STIS. Mereka wajib berkiprah di masyarakat sebelum mengikuti wisuda,” ungkap Ketua PT tersebut, Dr Abdurrohim.
Menurut Abdurrohim, usai wisuda, para wisudawan/wisudawati tersebut akan kembali ke daerah tugas dakwah mereka masing-masing.
“Jadi wisuda ini hanya terminal saja, yang penting itu semua alumni tidak ada yang menganggur dan punya kiprah di masyarakat,” tandasnya menutup.*