Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ketimpangan Harga di Jawa-Papua, Jokowi: Belum Ketemu Jurus Mengatasinya

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 25 Februari 2017 09:47 9:47 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 25 Februari 2017 09:41
Bagikan
Presiden Jokowi, Ketum Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Menag Lukman Hakim pada Tanwir Muhammadiyah di Ambon, Jumat (24/02/2017).
Bagikan

Hidayatullah.com– Masih timpangnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia diakui pemerintah Indonesia. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencontohkan perbedaan jauh harga-harga komoditas antara di Jawa dan luar Jawa.

“Bagaimana bisa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia kalau ada yang harganya di Jawa Rp 70 ribu sedangkan di Papua Rp 2,5 juta per sak semen. Yang ini saya belum berhasil, harganya belum turun karena jurusnya belum ketemu. Tapi insya Allah nanti harganya akan sama,” ujar Jokowi.

Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Tanwir Muhammadiyah di Islamic Center Ambon, Maluku, Jumat (24/02/2017). Tanwir bertema “Kedaulatan dan Keadilan Sosial untuk Indonesia Berkemajuan” ini berlangsung hingga Ahad (26/02/2017).

Baca: Presiden RI ke-6 Minta Keadilan kepada Presiden Jokowi dan Kapolri

Terkait visi keadilan sosial untuk Indonesia Berkemajuan, Jokowi mengakui keadilan sosial di negara ini masih harus diupayakan. Harga bahan bakar minyak (BBM) yang berbeda antara Pulau Jawa dengan Papua misalnya, kembali disinggung olehnya.

Menurutnya, dengan kebijakan BBM satu harga, pemerintah terus berupaya mengupayakan keadilan sosial tersebut. Namun, tugas pemerintah diakui belum selesai, sebab masih banyak komoditas lainnya yang menunjukkan belum terwujudnya keadilan sosial.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Selain itu, dalam mengurangi kesenjangan yang terjadi di Indonesia, pemerintah mengklaim sudah punya rencana untuk mengeluarkan kebijakan pemerataan ekonomi. Tiga sektor penting menjadi fokus kebijakan itu sebagai langkah awal.

“Pertama di reforma agraria dan redistribusi aset. Yang kedua, di bidang akses keuangan dan permodalan. Dan yang ketiga, dalam peningkatan pembangunan SDM,” ujar Jokowi lansir presidenri.go.id.

Baca: Dikritik Lamban Berkomunikasi dengan Ormas Islam, Jokowi Akui Banyak Salah

Diketahui, dalam kebijakan redistribusi aset, pemerintah mengaku hendak menjadikan rakyat memiliki sebidang tanah yang diakui oleh negara, agar dapat dimanfaatkan secara produktif.

Melalui kebijakan itu, diharapkan para petani yang tidak memiliki lahan maupun para masyarakat adat dapat memiliki lahan yang dapat ditingkatkan produktivitasnya oleh mereka. Dengan cara inilah rasio kesenjangan diklaim dapat menurun.

“Sekarang ini di kantong saya sudah ada 12,7 juta hektar lahan. Ini yang akan nanti dengan skema-skema khusus dibagikan entah untuk rakyat, koperasi, atau Muhammadiyah. Dengan catatan lahan itu harus produktif dan tidak bisa dijual lagi,” tambah Jokowi.

Tanggapi Kritikan Tajam Muhammadiyah

Pada acara pembukaan tanwir itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan berbagai kritikan tajam di depan Presiden Jokowi soal kondisi bangsa. Khususnya, soal penguasaan aset nasional.

“Pada tahun ini publik dikejutkan oleh data bahwa 1 persen orang menguasai 55 persen kekayaan Indonesia,” ujar Haedar dalam pidato iftitah Tanwir.

Baca: Di depan Presiden Jokowi, Muhammadiyah Sampaikan Berbagai Kritik Tajam soal Kondisi Bangsa

Naik panggung setelah Haedar, Jokowi mengaku hal itu. Ia bahkan menambahkan data yang sama-sama mencengangkan. “1 orang kadang pegang 300 ribu hektar, kadang 3 juta hektar, ada yang 700 ribu hektar,” ungkap Jokowi lantas menyatakan fakta miris sebaliknya soal petani.

“Petani ada yang tidak memiliki lahan karena hanya buruh tani. Yang memiliki pun, jika dirata-rata hanya seperempat hektar,” ungkapnya kutip pwmu.co.

Di akhir sambutan, Jokowi berharap agar dalam Tanwir Muhammadiyah ini turut terlahir gagasan-gagasan berkemajuan untuk mewujudkan keadilan sosial di Tanah Air. Pemukulan tifa oleh Jokowi setelah itu sekaligus menandai diresmikannya pembukaan Tanwir Muhammadiyah tahun 2017.

Setelah membuka Tanwir, Jokowi meninjau Klinik Apung Said Tuhuleley yang lokasi tidak jauh dari acara pertama. Sebelum meninjau, Presiden menekan tombol sirine kapal dan menandatangani Plakat Kuningan sebagai tanda Peresmian Klinik Apung Said Tuhuleley.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agrariaekonomi berkeadilanhaedar Nashirharga BBMJawaJokowikeadilan sosialkebijakan pemerintahketimpangan sosialKetua Umum PP MuhammadiyahKetum MuhammadiyahKlinik Apung Said Tuhuleleykondisi kebangsaanlahanMuhammadiyahMuhammadiyah kritik PresidenPapuapemerintahan Jokowi-JKpemilik modal asingpenguasaan aset nasionalpetanipetani di IndonesiaPresiden Joko Widodo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Terkait Perdagangan Narkoba dan Pencucian Uang, Putra Pele Dibui
Tulisan selanjutnya Bachtiar Nasir: Saya Sekarang Sedang Dikuliti

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Tak Mau Angkut Senjata 'Israel', Lufthansa Tetapkan Embargo
BeritaIptekes

Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Berita Iptekes
27 Agustus 2026 23:34
600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?