Hidayatullah.com– Menurut Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, sikap perdebatan dan mengklaim paling Pancasila justru merusak bangunan kesepakatan yang sudah ditata selama ini.
“Menurut saya justru itu menunjukkan bahwa kita semua tidak Pancasilais,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima hidayatullah.com Jakarta, Rabu (31/05/2017).
Diketahui, Hari ini, Kamis, 1 Juni 2017 ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Hari Lahir Pancasila.
Dahnil menilai, Pancasila adalah kesepakatan bersama sebagai bangsa dan negara yang berdiri atas dasar kesadaran kolektif bahwa bagsa Indonesia majemuk atau beragam.
“Kesadaran kolektif atas keberagaman Indonesia itulah yang membuat tidak boleh ada kelompok yang merasa ‘paling’, ‘superior’, atau ‘kelompok nomor satu’,” ungkapnya.
Maka, sambung Dahnil, berbahaya dan tidak baik, bila pergantian kekuasaan kemudian membuat tafsir tunggal terhadap Pancasila. Karena bisa menyakiti golongan politik lainnya, dan sejatinya sedang mengkhianati keberagaman golongan dalam Indonesia.
“Dan tentu itu adalah tindakan dan sikap yang bertentangan dengan Pancasila itu sendiri,” imbuhnya.
Baca: Zaman Soeharto, Jika Berbeda Pandangan dengan Presiden Disebut Anti Pancasilais
Menurutnya, saat ini adalah momentum pembuktian untuk mengisi Pancasila dan berkarya setelah memiliki Indonesia yang merdeka. Bukan saatnya lagi mempertentangkan ideologi Negara, apalagi berusaha merusak ideologi yang sudah dibangun bersama.
“Momentum semua anak negeri untuk berkarya menuju Indonesia yang maju, makmur, adil dan bermartabat. Indonesia dimana kegembiraan selalu dihadirkan dalam keberagamannya, bukan justru ditebar kecemasan-kecemasan yang menurunkan semangat produktivitas seluruh anak negeri,” jelasnya.
“Jadi, Pancasila adalah milik kita semua dan kita semua adalah Pancasila, saatnya berkarya,” pungkas Dahnil menutup.*