Hidayatullah.com– Eksponen alumni Universitas Andalas (Unand) Padang menyatakan penolakan reklamasi Teluk Jakarta dan menyesalkan pencabutan moratorium reklamasi tersebut oleh Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.
“Kami meminta pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Pusat dan Pemprov DKI, untuk menghentikan proyek reklamasi ini secara permanen,” ujar Pedri Kasman, salah seorang inisiator gerakan eksponen itu, dalam pernyataan bersama inisiator lainnya kepada hidayatullah.com Jakarta, Jumat (27/10/2017).
Menurut para alumni Unand itu, proyek reklamasi Teluk Jakarta mengandung banyak masalah. Perizinannya sejak awal amburadul dan melabrak sekian banyak aturan.
Dari aspek lingkungan, jelasnya, reklamasi ini jelas berpotensi besar merusak ekosistem laut, memperparah banjir di daratan Jakarta, serta pencemaran perairan Kepulauan Seribu.
“Dan bahkan bisa menenggelamkan pulau-pulau di Kepulauan Seribu dan kawasan Banten karena aktivitas pengerukan pasir laut,” imbuhnya.
Baca: Tolak Reklamasi, Alumni Unand: Masih Banyak Pulau Belum Berpenghuni
Secara ekonomi, tambahnya, proyek ini jelas akan merugikan dan mematikan mata pencaharian nelayan Teluk Jakarta. Reklamasi sama sekali tidak menguntungkan rakyat banyak, melainkan hanya menguntungkan segelintir orang dan pemilik modal.
“Kami memandang bahwa reklamasi Teluk Jakarta sama sekali tidak dibutuhkan oleh negara ini. Indonesia memiliki ribuan pulau, bahkan masih banyak yang belum berpenghuni. Tidak ada urgensinya menambah pulau dengan reklamasi,” tegasnya.
Seandainya pun reklamasi ini dibutuhkan. Maka itu kata mereka harus dilakukan oleh negara. Negara harus punya kendali penuh. Bukan seperti sekarang yang dikendalikan oleh korporasi.
“Pulau hasil reklamasi harus menjadi milik negara. Begitu praktik reklamasi yang kami tahu di banyak negara. Kedaulatan negara ini jangan digadaikan pada korporasi kakap pemilik modal,” ungkapnya.
“Sikap ini kami ambil dengan penuh kesadaran, didorong oleh rasa cinta akan bangsa dan NKRI tercinta ini. Kami yang berhimpun adalah pribadi-pribadi alumni, tidak melibatkan institusi baik Universitas Andalas sebagai perguruan tinggi maupun Ikatan Keluarga Alumni Unand. Keterpanggilan kami adalah bagian dari tanggung jawab intelektual sebagai lulusan salah satu perguruan tinggi negeri tertua di luar Jawa,” paparnya.
Sejak diinisiasi dua hari yang lalu, saat ini sudah ada sekitar 500 orang yang bergabung dalam gerakan “Alumni Universitas Andalas Menolak Reklamasi Teluk Jakarta”.
“Gerakan ini akan terus berjalan dan kami yakin akan bisa menghimpun ribuan alumni lainnya yang mengambil sikap yang sama. Pada akhirnya kami akan menyampaikan petisi ini kepada Gubernur DKI dan Presiden Republik Indonesia,” ungkapnya.*