Hidayatullah.com– Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Dr Hamid Fahmy Zarkaysi MA mengatakan, istilah ‘moderat, radikal, dan toleran saat ini dibajak oleh kelompok-kelompok yang punya kepentingan dengan Barat.
Ia mencermati, kriteria radikal, ekstremis, moderat, dan toleransi belakangan ini sangat sepihak.
“Istilah moderat ini sudah dibajak orang kemana-mana. Sebagian orang mendefinisikan dengan sesuka hatinya makna moderat itu. Dan sudah tentu ini hasil dari definisi moderat itu pasti akan memunculkan makna radikal,” ujarnya yang sedang di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, saat diwawancarai hidayatullah.com, Jumat malam (03/11/2017).
Direktur Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) yang telah mengkaji masalah ini sejak tahun tahun 2005 menilai, beberapa kelompok –khususnya yang selama ini sangat alergi terhadap Islam– telah ‘membajak’ makna beberapa istilah itu menurut kepentingan mereka.
Misalnya, jika orang tidak moderat, pasti menjadi radikal. Padahal, tidak selalu seperti itu.
Baca juga: Hamid Fahmi: “Penggunaan Istilah ‘Moderat, ‘Radikal’ dan ‘Toleran’ Sarat Kepentingan Barat”
“Di antara ciri dari orang moderat menurut orang-orang yang tidak suka dengan Islam itu, adalah, pertama orang yang apabila agamanya dihina, dia tidak boleh marah. Kedua, orang taat menjalankan syariat itu dianggap tidak moderat, karena syariat itu sendiri dianggap mengajarkan kekerasan.. Dan banyak lagi definisi itu,” ujarnya.
“Bahkan ada yang mengatakan bahwa orang yang menganggap orang lain kafir itu tidak moderat. Nah, ini gejala ini tentu harus kita respons dengan definisi juga. Jadi definisi yang selama dipakai LSM dan kelompok-kelompok HAM ini adalah definisi yang pertama, sangat tidak akademis dan tidak bertanggung jawab,” tambahnya.
Menurut putra (alm) KH Imam Zarkasy, pendiri PP Modern Darussalam Gontor, umat Islam tidak boleh bertoleransi terhadap perzinaan dan kemaksiatan. Dan ini juga harus dihormati, karena ini hak umat Islam. Anehnya, saat ini, umat Islam melaksanakan keyakinannya, dianggap melangar HAM.
“Haknya (umat Islam) adalah tidak setuju dengan perbuatan yang ada di dalam domain agamanya, karena perzinaan itu haram. Kalau saya mengharamkan perzinaan kemudian orang lain menghalalkan, dan saya dianggap radikal, dan salah menurut HAM,” ujarnya.
Baca juga: Gus Solah: Menolak Komunisme Masa Radikal
Al-Qur’an Intoleran?
Ia juga mencontohkan definisi intoleran dan radikal jika tidak setuju terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Menurutnya, ini definisi yang sangat kental pesan Barat.Kalau sudah seperti ini, menurutnya definisi harus disesuaikan dengan Pancasila.
“Pancasila ini asasnya adalah ketuhanan. Orang yang paling dekat pada Tuhan di Indonesia ini justru yang Pancasilais. Di sini kita sebenarnya tidak bisa mentolerir orang-orang yang jauh dari Tuhan,” lanjutnya.
Karena itu dia memastikan istilah-istilah yang disebutkan di atas (radikal, ekstremis, toleran, dan moderat, red) maknanya sama dengan apa yang diucapkan oleh orang-orang di Barat. Ia curiga, istilah-istilah ini diluncurkan karena ada agenda besar dari luar Indonesia.
“Saya curiga bahwa itu adalah sejalan dengan orang di luar Indonesia dan di luar Islam,” tambahnya.
Baca juga: MUI: Tidak Ada Kata Toleransi pada LGBT dan Aliran Sesat
Sama halnya dengan kasus LGBT. Islam dan al-Qur’an sangat melarang perbuatan ini. Karena itu, al-Qur’an ‘tidak toleran’ dalam urusan kebatilan seperti ini.
“Tidak ada dalam Islam yang namanya laki kawin sama lelaki, perempuan dengan perempuan. Dan dalam Islam itu dikutuk, dilaknat oleh Allah. Kita dilarang itu. Kita tidak toleran dengan itu, tapi ini dianggap radikal,” kata dia, mereka jelas memusuhi Islam.
Jadi jika orang Islam membenci LGBT bukan karena orang Islam intoleran, tapi al-Qur’an melarang itu. Karenanya, jelas Hamid, menganggap umat Islam yang menolak LGBT dengan penyebutan intoleran, secara tidak langsung mereka menuduh isi al-Qur’an tidak toleran. Jadi apakah dengan begitu, secara tidak langsung mereka menganggap isi al-Qur’an intoleran? “Ya Betul!”* SKR, CHA