Hidayatullah.com– Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menanggapi film Naura & Genk Juara (NGJ) yang mengundang kontroversi di tengah masyarakat.
Dalam rangka itu, pihak KPAI akan menonton terlebih dahulu film tersebut sebelum mengambil langkah sikap selanjutnya.
Demikian diakui Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti.
“Aku nonton besok (Jumat, 24 November 2017, Red),” ujarnya kepada hidayatullah.com di Jakarta lewat pesan singkat kemarin.
Sebelumnya diketahui, film NGJ menuai sorotan dari sejumlah pihak khususnya kalangan orangtua.
Baca: Arnoud Van Doorn, Sang Pembuat Film Penghina Islam itu Naik Haji
Diketahui, baru-baru ini beredar, seseorang mengaku kecewa setelah menyaksikan film Naura & Genk Juara (NGJ) bersama anak-anaknya.
“Setelah menyaksikan sendiri film tersebut, ada banyak notes di dalam kepala saya yang selama film mengalir berkali-kali memberikan pemahaman kepada anak-anak. Saya merasa kecolongan…,” sebut warganet tersebut dalam pesan berantai yang menyebar luas termasuk di kalangan wartawan.
“Dalam cerita di filmnya sendiri pun banyak sekali kejanggalan yang saya temui. Misalnya adalah tidak adanya guru pendamping dari tiap sekolah untuk mendampingi murid-murid mereka di camp tersebut. Lalu pembagian tenda yang menyatukan antara anak laki-laki dan anak perempuan, ‘kalian dari SD Angkasa? Tenda kalian di sana ya.’
Lalu bagaimana mungkin camp yang isinya anak-anak SD bisa tidak ada pengawasnya saat malam hanya karena semua harus mencari seorang anak yang hilang?
Lalu untuk percobaan-percobaan sciences-nya? Saya rasa itu hanya pemanis buatan. Karena tak ada penjelasan sama sekali, misalnya kelompok A membuat apa, dari apa, fungsinya apa. Bahkan hasil karya Naura sendiri pun seperti tak dihargai, terlihat dari cepot (hewan peliharaan Kipli) yang membawa kabur GPS naura tapi tidak dicari.
Penghargaan terhadap anak pun kurang, ini bisa ditemui dari respon Bu Laras pada laporan Naura dan teman-temannya mengenai Okky yang hilang, dan juga cara panitia camp berkata-kata pada tokoh Bimo yang justru seperti merendahkan bakat seorang anak,” tulisnya.
“Hal paling saya soroti dalam film ini, sama seperti yang disoroti oleh akun seorang bunda bernama Maya, adalah tendensius beragama!
Okelah saya masih bisa menerima jika saya tidak menemukan SATU PUN TOKOH BERHIJAB di dalam film anak-anak itu, film anak-anak Indonesia yang mana Indonesia sebagian besar Muslimahnya mengenakan hijab dengan segala pernak perniknya, perhatikan saja mamak-mamak ternak Indonesia saat ini yang hits dengan hijab-hijan mereka. Tapi yang tidak bisa saya terima adalah PELECEHAN TERHADAP KALIMAT2 SUCI UMAT ISLAM!
Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa membuat film ini bukan sehari dua hari selesai, ada proses panjang di sana, kan! Mulai dari pembuatan naskah, skenario, meeting sana sini untuk mematangkan ceritanya, alurnya, skenarionya. GA MUNGKIN BISA SLEBOR memasukan SENTIMEN AGAMA, kecuali memang ADA AGENDA TERTENTU!!!
Islam dicitrakan sebagai penjahat berjenggot, yang meski menteriakan takbir, sering istighfar, namun kelakuan bejat, bahkan di film dinamai trio licik!
Selain sentimen yang sangat jahat terhadap Islam, saya juga melihat kengerian lain di film ini!,” sebutnya.*