Hidayatullah.com– Kelompok aktivis siber yang menamakan dirinya Muslim Cyber Army (MCA) sejatinya tidak memiliki pemimpin, kartu tanda anggota (KTA), maupun struktur layaknya sebuah organisasi secara umum.
Aktivis senior di bidang media sosial, Mustofa B Nahrawardaya, yang juga Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, menegaskan hal itu.
“MCA tidak ada pemimpinnya. MCA tidak punya KTA, dan tidak punya nomor keanggotaan,” ujar pengguna Twitter dengan akun @NetizenTofa ini kepada hidayatullah.com di Jakarta dalam wawancara panjang semalam, Kamis (01/02/2018).
Baca: Mustofa Nahrawardaya: Waspadai Jebakan Operasi Intelijen di Dunia Maya dan FB
Oleh karena itu, jika ada kelompok mengaku bernama MCA dan mengaku sebagai pimpinan atau anggota, Mustofa memastikan mereka adalah MCA palsu.
“Silakan diinterogasi, dimana mereka mendaftarkan diri sebagai anggota MCA? dan jika ada yang mengaku sebagai Pemimpin MCA, silakan diinterogasi, siapa yang memilih dan melantik mereka?” ujarnya.
Mustofa menjelaskan, MCA senantiasa bergerak tanpa bisa diendus bentuk dan jaringannya. Karena memang cara bergerak MCA mirip Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).
“Meski OTB, MCA beda. Gerakan mereka sangat rapi dan saling memahami. Mereka tahu, harus berbuat apa. Tanpa dikoordinir sekalipun, MCA bisa menempatkan diri masing-masing saat berjihad informasi.
Saat diserang musuh, MCA benar-benar bisa melawan tanpa panglima. Saat bertahan, MCA bisa bertindak tanpa ada yang membayar, memberi pulsa, dan tanpa keluhan.
Bagi MCA, membela Islam dan ulama di dunia maya, menjadi kebanggaan tersendiri yang sulit diceritakan. Padahal, mereka tidak pernah bertemu dan tak pernah bertatap muka,” paparnya.
Uniknya, ketika ada MCA palsu, maka MCA yang asli, bisa dengan sendirinya melakukan hukuman maya spontan tanpa menunggu
perintah pihak lain. Kalaupun ada perintah melalui seruan-seruan, itu hanya sebatas metode penyebaran informasi saja. Hanya sebatas gaya, tambahnya.
“Jadi, jika ada MCA palsu, otomatis akun MCA KW ini akan di-bully dan di-report dan di-block ramai-ramai. MCA pun tak enggan minta maaf jika hal itu dilakukan karena demi menjaga nama baik MCA,” jelasnya.
Baca: Lima Pesan bagi Para Pengguna Medsos Menghindari Jebakan
Maka, kata Mustofa, MCA yang asli sangat mudah diraba. Begitu pula, MCA palsu. Jika sampai ada MCA bersatu dalam Grup WA, Grup FB, Grup Instagram, dan lain-lain, maka dipastikan itu bukan MCA asli. “Karena MCA asli tidak berkelompok dalam grup seperti itu.”
Jika ada MCA menista, menghina, menyebarkan info hoax, dia pastikan itu bukan MCA, karena ciri MCA adalah melawan hoax sejak awal.
“Jika ada MCA yang mengaku punya struktur organisasi, atau bahkan didanai, maka dipastikan itu bukan MCA asli. karena MCA asli tidak punya organisasi dan tidak ada yang mendanai. Kalau ada MCA yang mengaku punya email, punya kantor atau punya koordinator, saya pastikan itu MCA palsu,” tegas Mustofa yang salah satu akun Twitternya, @MustofaNahra, dicuri “oknum tertentu” sejak 2016 lalu hingga sekarang.*