Hidayatullah.com– Dokter ahli forensik, dr Ani Hasibuan menila bahwa meninggalnya beratus-ratus petugas KPPS pada Pemilu 2019 adalah tragedi dunia.
Diketahui jumlah anggota KPPS meninggal sudah mencapi 440 orang, hal ini perlu diketahui dan diusut apa penyebabnya. Masyarakat dan pemerintah pun tidak boleh memandang enteng petugas KPPS yang meninggal dunia akibat Pemilu 2019.
“Kita lihat di luar negeri ada kejadian bom Brussels 7 orang meninggal, ramai-ramai ngomong #SaveBrussels, di Prancis ada yang meninggal pun demikian #SaveFrance, nah ini jumlahnya ratusan yang meninggal masak diam saja, ada apa? Ini sebuah tragedi,” ujar dr Ani, Selasa (07/05/2019).
Dr Ani puny mempertanyakan sikap Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyebut penyebab kematian ratusan petugas KPPS karena kelelahan.
“Saya di sini tidak mewakili politik tertentu, saya ahli forensik. Kita lihat ini KPU mendadak kok jadi ahli forensik, mengatakan mereka meninggal karena kelelahan. Bukti pemeriksaannya mana kalau mereka kelelahan? Ini kita tidak boleh diam,” tegas dr Ani.
Ia menjelaskan, kelelahan berkaitan dengan kondisi fisik seseorang. Secara medis, orang yang kelelahan akan mengantuk, merasa lapar atau jika dipaksakan akan pingsan, namun tidak meninggal.
“Kalau dipaksa akan pingsan, enggak mati,” terangnya.
Ia pun tidak sepakat apabila kelelahan yang dijadikan alasan. Sebab, terangnya, kelelahan, kondisi fisik, psikologis, dan beban kerja seseorang tidak akan menyebabkan kematian seseorang.
“Saya sebagai dokter dari awal sudah merasa lucu, ini bencana pembantaian apa pemilu, kok banyak sekali yang meninggal. Dalam agama saya membunuh seorang manusia sama artinya dengan membunuh seluruh umat manusia,” tuturnya dalam sebuah program acara kutip INI-Net, Rabu (08/05/2019).
Ani tidak melihat ada fisik yang sangat kelelahan, jika kematian dikaitkan dengan beban kerja. Ini karena dalam satu tempat pemungutan suara (TPS) telah ditugaskan tujuh anggota KPPS.
Ketujuh petugas tersebut pun memiliki tugas masing-masing. Ditambah lagi terdapat aturan mereka bisa bergantian.
“Kematian karena kelelahan saya belum pernah ketemu, saya sudah 22 tahun jadi dokter, belum pernah ketemu kasus kematian seseorang karena kelelahan,” tegas dr Ani.
Ani menjelaskan, kelelahan hanya bisa jadi pemicu, bukan penyebab. Misalnya, jika petugas mempunyai riwayat penyakit kronis seperti jantung, maka dia meninggal karena penyakitnya. Kelelahan hanya memicu penyakit itu kambuh.
“Saya tidak sepakat dengan kalimat kekalahan bisa jadi penyebab orang meninggal dunia,” ungkapnya.
Sang dokter pun menuturkan pengalamannya kala meneliti penyebab kematian anggota KPPS di Yogyakarta. Dalam temuannya, ada petugas pada awalnya sehat. Namun, sehari pasca pemilu petugas itu diserang sakit kepala, mual-mual, muntah-muntah, dan dua hari setelahnya meninggal dunia.
Dr Ane meminta KPU untuk menunjukkan bukti pemeriksaannya, jika penyebab kematian petugas KPPS adalah kekalahan.
“KPU harus tanggung jawab. Urus 500 orang ini, kenapa meninggal. Ada apa? Kematian itu ada harinya, tapi harus diteliti penyebabnya. Jadi saya minta ini diteliti, kalau perlu diotopsi,” ungkapnya.*