Hidayatullah.com– Sejak Senin (22/07/2019) beberapa delegasi dari Kementerian Perekonomian Nasional Palestina datang ke Indonesia dengan tujuan membangun kerja sama ekonomi antara Palestina dan Indonesia.
Delegasi Palestina datang ke Indonesia juga untuk memperkenalkan produk-produk mereka kepada Indonesia dan agar dapat bertukar pikiran mengenai pasar ekonomi di Indonesia.
Direktur Pusat Kebijakan Perdagangan Palestina, Shadi Shaheen, mengatakan, kedatangan mereka ke Indonesia juga untuk memperkuat hubungan antara dua negara, melalui program-program yang mereka lakukan selama di Indonesia.
“Dan yang paling besar nanti adalah workshop,” ujarnya dalam pertemuan di Kantor Kedubes Palestina, Jl Ki Mangunsarkoro. No 64, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/07/2019).
Mereka katanya juga sangat ingin memperkenalkan berbagai peluang bisnis dan investasi yang ada di Palestina. Ia mengaku sangat senang dengan keterlibatan Indonesia yang sudah banyak membantu perekonomian Palestina.
Selain itu, Palestina juga meminta Indonesia agar membebaskan bea cukai terhadap sebanyak 61 item produk lainnya, selain kurma dan zaitun yang telah diberlakukan Indonesia sebelumnya.
“Kami menginginkan kelanjutannya dalam memperluas perluasan yang sudah dilakukan sebelumnya. Seperti pembebasan bea cukai 0% untuk dua produk kurma dan minyak zaitun, atau produk-produk lainnya yang dimungkinkan bisa untuk dibebaskan,” jelasnya.
“Semoga nantinya bisa mendapatkan berbagai implementasi dari kesepakatan yang kita bangun bersama dan juga semoga hal-hal ini bisa kita lakukan dengan sesingkat-singkatnya, sehingga dapat membantu rakyat Palestina dan juga Palestina dalam kedaulatan perekonomiannya,” lanjutnya.
Jawad Al-Muty, Perwakilan Kementerian Perekomian Nasional Palestina, mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih dan sangat bangga terhadap Indonesia yang telah menyambut mereka pada kunjungan kali ini.
Kunjungan itu, katanya, juga agar dapat meningkatkan perekonomian nasional Palestina, dengan berkerja sama bilateral dengan perusahaan, atau sektor ekonomi yang ada di Indonesia, baik sektor umum maupun sektor yang khusus.
Ia mengaku, pihaknya sangat bersemangat dengan sambutan yang mereka terima. Ia berharap kedepannya hubungan Palestina-Indonesia bisa terus berkelanjutan dan membawa hasil yang bagus bagi kedua negara.
Dia menyampaikan, APBN di Palestina mengalami penurunan yang signifikan dibanding tahun lalu. Selain itu, barang- barang yang masuk ke Palestina juga susah karena harus melalui pemeriksaan tentara penjajah Zionis-‘Israel’.
“Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, banyak sekali kendala yang kami alami sebagai dampak penjajahan yang saat ini sedang berlangsung, hal ini dapat dilihat dari barang-barang yang masuk ke Palestina ketika mereka ingin melewati perbatasan yang dijaga oleh tentara ‘Israel’.
Sehingga dengan adanya kesulitan ini berdampak turunnya 40 persen dari APBN negara Palestina dibandingkan dengan tahun yang lalu. Dan penurunan 40 persen ini merupakan angka yang tertinggi sedunia dibanding dengan APBN-APBN yang ada di negara lainnya prioritas,” ulasnya.
Oleh karena itu, katanya, pemerintah Palestina berusaha untuk memiliki kebebasan ekonomi nasional. Bangsa Palestina berkeyakinan untuk menjadi bangsa yang mandiri secara ekonomi, sangat bisa dilakukan tanpa bantuan produk dari ‘Israel’.
“Pemerintah Palestina saat ini ingin terlepas secara keseluruhan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan ‘Israel’ termasuk di antaranya ingin memiliki kedaulatan ekonomi nasional sendiri tanpa harus bergantung dengan produk-produk dan bantuan dari ‘Israel’,” ujarnya.
Jawad, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah Indonesia lewat perwakilan Kadin dan Menteri Perdagangan atas kebijakan pembebasan pajak yang diberikan pada dua produk Palestina.
“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah Indonesia atas kebijakan pembebasan pajak yang diberikan terhadap produk kurma dan minyak zaitun yang sudah berjalan saat ini,” ujarnya.
Perlu diketahui bersama, kata dia, bahwa hasil perdagangan yang Palestina terima dalam satu tahunnya bisa mencapai USD 5 miliar.
“Hanya saja kontribusi yang diberikan oleh Indonesia masih sangat sedikit sekali dalam angka yang ada. Maka kami datang ke Indonesia, untuk bisa menunjuk lebih lanjut tentang hubungan yang bisa kita lakukan bersama-sama dan juga kami ingin membalas kunjungan dari delegasi delegasi Indonesia yang sudah berkunjung beberapa waktu lalu ke Palestina,” jelasnya.* Azim Arrasyid