Hidayatullah.com– Warga Kota Pekanbaru, Riau, menggelar kegiatan takbir keliling menyambut Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah, yang jatuh pada Ahad (11/08/2019) di tengah kabut asap.
Takbir keliling digelar semalam, Sabtu, oleh sejumlah warga yang bermukim di pinggiran Kota Pekanbaru. Mereka tetap bertakbir keliling menyambut lebaran walaupun kualitas udara memburuk akibat asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Riau.
Takbir keliling antara lain terlihat di kawasan pemukiman Jl Swakarya, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Pekanbaru. Tampak sejumlah anak jamaah Masjid Al Munadzirin membawa obor berkeliling komplek untuk menggemakan takbir.
Mereka tampak melengkapi wajah mereka dengan penutup hidung. Mereka juga takbiran dengan rute lebih pendek dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Takbiran keliling juga terlihat di sekitar Jl Uka, Garuda Sakti, Kecamatan Tampan. Puluhan anak-anak didampingi jamaah masjid berusia dewasa tampak bersemangat menggemakan suara takbir walau harus diselimuti kabut asap.
Sabtu tadi malam, kualitas udara di Kota Pekanbaru terlihat tidak lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Kualitas udara di Ibu Kota Riau itu terus diselimuti asap sejak akhir bulan Juli lalu.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan Riau Yohannes mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah seiring dengan semakin memburuknya kualitas udara di Pekanbaru.
Selain itu, khusus untuk kegiatan Shalat Idul Adha yang diselenggarakan pada Ahad ini, ia juga mengimbau agar tidak dilaksanakan di lapangan melainkan di dalam masjid. “Dengan kondisi sekarang ini, imbauan kita agar shalat Id dilaksanakan di dalam masjid,” ujarnya kutip Antaranews.com.
Awal pekan ini, Pemerintah Kota Pekanbaru juga telah menetapkan status siaga darurat asap. Penetapan itu menyusul kualitas udara di Ibu Kota Provinsi Riau tersebut semakin memburuk sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan.
“Kita sepakat dengan kondisi Pekanbaru saat ini berasap, maka ditetapkan status siaga darurat asap, provinsi malah sudah sejak 19 Februari lalu,” ujar Sekretaris Daerah Pekanbaru, M Noer.
Kualitas udara Pekanbaru yang memburuk, dan sesuai laporan BPBD dan BMKG dimana situasi panas masih akan berlangsung hingga Oktober. Kemudian sejalan dengan status siaga oleh Provinsi Riau yang sudah belaku 19 Februari sampai Oktober nanti, maka dia mengatakan Pekanbaru perlu menetapkan status siaga. Tujuannya, agar penanganan dampak asap tersebut bisa menyeluruh, bersama, dan sistematis.
“Dengan status siaga ini maka semua pihak baik pemerintah, masyarakat secara kebersamaan ikut terlibat dalam penanggulangan bahkan pengawasan kalau ada kebakaran. Selain tentunya pembiayaan bisa juga didapat baik lewat pemanfaatan anggaran darurat daerah maupun pusat,” sebut Noer.*