Hidayatullah.com– Wukuf sebagai puncak ibadah haji dilaksanakan oleh lebih dari 2,5 juta jamaah haji dari berbagai negara di Padang Arafah di bawah cuaca terik, Sabtu (10/08/2019) waktu Arab Saudi.
Pada hari pelaksanaan wukuf, cuaca di Saudi mencapai 36 derajat celsius.
Saat cuaca panas di Arafah mencapai 36 derajat hingga pukul 11.00 Waktu Arab Saudi (WAS), meningkat dibandingkan pukul 06.30 WAS yang berada di posisi 29 derajat, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) terus menyampaikan imbauannya.
Melalui pengeras suara, petugas mengingatkan agar jamaah haji tak banyak beraktivitas di luar karena cuaca terik. Jamah diimbau lebih banyak berada di tenda menjalankan amalan ibadah.
Beberapa saat setelah puncak haji berlangsung, cuaca berubah drastis. Hujan mengguyur Padang Arafah Sabtu (10/08/2019) siang jelang sore WAS. Berdasarkan informasi dihimpun, hujan turun sekitar pukul 14.45 WAS.
“Arafah diguyur hujan,” ujar Harun salah seorang jamaah haji kepada hidayatullah.com sekitar pukul 19.45 waktu Indonesia barat (WIB). Ada perbedaan sekitar 4 jam antara WAS dan WIB.
Guyuran hujan ini berlangsung setelah 45 menit jamaah haji Indonesia menyelesaikan rangkaian ibadah wukuf. Mulai dari pembacaan Al-Qur’an, shalat berjamaah, khutbah wukuf, hingga berdoa bersama.
Pada sekitar pukul 14.45 WAS itu, jamaah haji seluruh dunia sedang berdiam diri di dalam tenda masing-masing, melaksanakan rangkaian wukuf di Padang Arafah.
Setelah cuaca panas mendera hingga 36 derajat, terjadi perubahan tiba-tiba di Arafah. Dari dalam tenda, mulai terdengar petir menyambar di langit. Tampak awan menghitam. Tidak lama kemudian, rintik hujan turun, membasahi Tanah Arafah. Kian lama kian deras diiringi angin.
Beberapa jamaah haji dari beberapa tenda berdiam diri, tampak bergegas menuju pintu tenda. Ternyata sebagian jamaah penasaran benarkah hujan turun di tengah proses ibadah wukuf.
Mendapati hujan sedang turun, ucapan syukur keluar dari mulu jamaah, saat tangan menggapai air yang jatuh dari langit. Hujan berkah mengiringi puncak haji di Arafah.
“Hujan ini mendinginkan kita, mengantarkan kepada kesejukan,” ucap jamaah haji lainnya bernama Efa Ariani kutip MCH, Sabtu (10/08/2019). Efa pun semringah dan seakan tak peduli hujan membasahi baju ihram yang dipakainya.
Sementara itu, Syahruddin, jamaah lainnya, menuturkan jika salah satu waktu mustajab saat berdoa adalah ketika hujan Ia pun mengajak melantunkan doa untuk diri sendiri diri, keluarga maupun umat Islam lainnya.
“Doa saat hujan, Allahumma shayyiban naafi’an. Semoga hujan yang turun membawa manfaat dan keberkahan,” ungkapnya.
Sementara itu, saat pelaksanaan wukuf, Amirul Hajj sekaligus Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, wukuf di Padang Arafah merupakan medium kembali ke jati diri. Kemampuan untuk berkontemplasi, berdiam diri melakukan refleksi mengenali jati diri sesungguhnya sebagai manusia.
Hal ini, jelasnya, sesuai dengan ajaran agama Islam yang menitiktekankan pada aspek kemanusiaan.
“Wukuf adalah medium bagaimana kita mampu kembali ke jati diri. Ketika kita mengenali diri kita sendiri, kita pun mampu mengenali Tuhan kita,” ujarnya saat memberi sambutan pada puncak ibadah haji, wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi, Sabtu (10/08/2019).
Menag bertutur, bagaimana ketika Rasulullah ditanya para Sahabat tentang ciri-ciri kemabruran. Ternyata jawaban Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sangat sederhana tapi bermakna besar. Yakni, memberi makan sesama manusia.
Makan sesungguhnya simbol dari kebutuhan pokok setiap manusia.
“Ketika kita bertanya apakah haji kita mabrur, seberapa besar kita peduli terhadap kebutuhan pokok sesama kita, makan simbol kebutuhan pokok itu,” ujar Menag.* (MCH/SKR)