Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Mendagri: Pilkada Langsung Banyak Mudarat, Perlu Dikaji Ulang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 November 2019 10:50 10:50 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 November 2019 10:50
Bagikan
Mendagri Tito Karnavian
Bagikan

Hidayatullah.com– Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mempertanyakan sistem pilkada langsung. Penghujung tahun 2019 ini memasuki Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.

Tito bahkan menilai sistem pemilu seperti itu memakan biaya politik yang tinggi dan kenyataan seperti itu sangat negatif.

Mantan Kapolri ini melemparkan pertanyaan, apakah sistem politik pemilu pilkada secara langsung ini masih relevan setelah 20 tahun? Satu manfaatnya cuma meningkatkan partisipan demokrasi. Lalu apakah tidak ada manfaat positif lainnya?

“Kami lihat mudaratnya, politik biaya tinggi. Kepala daerah kalau tidak punya Rp 30 miliar untuk jadi Bupati, mana berani?” ungkap Tito kepada awak media setelah mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (06/11/2019).

Tito menjelaskan, pembiayaan politik yang tinggi itulah mudaratnya, karena berpotensi memunculkan peluang korupsi. Sebab, terangnya, untuk menjadi seorang kepala daerah atau wali kota, dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Sedangkan uang yang dihasilkan jika terpilih nanti yaitu gaji seorang Kepala Daerah, tak sebanding dengan modal yang dikeluarkan selama lima tahun masa jabatan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Oleh karena itu, Tito meminta agar sistem pilkada langsung dikaji ulang. Kalau memang masih diperlukan secara langsung, paling tidak ada kajian untuk mengurangi biaya politik yang tinggi.

“Lakukan riset akademik. Boleh, kami dari Kemendagri akan melakukan itu, bagi yang lain institusi sipil, LSM, mari evaluasi. Bisa opsi satu tetap pilkada langsung tapi bagaimana solusi untuk mengurangi dampak negatif supaya enggak terjadi korupsi supaya nggak kena OTT lagi,” ujarnya kutip KBRN semalam.

Mendagri lantas menyarankan dilakukannya survei dan riset secara akademik terkait penyelenggaraan pilkada langsung yang sudah berlangsung sejak tahun 2005 lalu. Menurutnya hal ini penting dilakukan, guna mengetahui sisi positif dan negatif terkait penyelenggaraan Pilkada di Indonesia.

“Kalau pilkada langsung dianggap positif, fine. Tapi bagaimana mengurangi dampak negatifnya? Politik biaya tinggi, bayangkan,” ujarnya.

Dalam kapasitasnya sebagai eks Kapolri, Tito mengaku tidak kaget kalau kepala daerah selalu tertangkap tangan melakukan dugaan tindak pidana korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tito mengaku tidak percaya ada orang bersedia merugi saat memangku jabatan kepala daerah, sebab tak ada orang yang siap mengalami kerugian setelah menjabat kepala daerah.

“OTT (Operasi Tangkap Tangan) kepala daerah itu bukan kejutan buat saya. Kenapa? Mungkin hampir semua kepala daerah berpotensi melakukan tindak pidana korupsi. Bayangkan, dia mau jadi bupati modal Rp 30-50 miliar. Gaji (setelah terpilih) anggaplah Rp 200 juta, kalikan 12 bulan berarti Rp 2,4 miliar, dikalikan 5 tahun masa jabatan, dapat Rp 12 miliar. Sedangkan keluar Rp 30 miliar. (Mau) Rugi enggak? Apa benar saya ingin mengabdi untuk nusa dan bangsa tapi rugi? Bullshit, saya enggak percaya,” ungkapnya.

Tito lantas memastikan Kemendagri akan melakukan survei dan riset akademik itu. Tito pun mengimbau agar institusi sipil seperti LSM ikut melakukan evaluasi.

Menurutnya, solusi untuk mengurangi dampak negatif dari penyelenggaraan Pilkada harus ditemukan agar tidak ada lagi kepala daerah yang tertangkap tangan akibat terlibat kasus korupsi.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Kemendagrikepala daerahKorupsiMendagripemilupilkadapilkada langsungTito Karnavian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengurus dan Santri Pesantren ini Diberangkatkan Umrah
Tulisan selanjutnya Wamenag Wamenag Minta Ulama Merespons Perkembangan Teknologi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?