Hidayatullah.com–Sekjen DPP Front Pembela Islam (FPI) KH Ahmad Shobri Lubis meyakini, sudah sangat banyak korban jiwa akibat minuman keras (miras), terutama dalam berbagai kasus kriminal yang pelakunya mabuk-mabukan.
“Tanya polisi, mayoritas kriminal gara-gara mabok,” ujar Kiai Shobri saat berorasi pada aksi damai di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Rabiul Akhir 1435 H (14/2/2014) sore.
Menurutnya, korban akibat miras sudah melebihi korban peperangan. Bahkan banyak kasus pertikaian SARA di Indonesia yang dipicu persoalan miras.
Dia mencontohkan perang Poso, Sulawesi Tengah, yang menurutnya akibat pemuda Kristen mabuk di samping masjid.
“Kita juga mengingatkan kerusuhan Ambon memakan korban jiwa dan harta benda yang ternyata juga diakibatkan gara-gara miras, minuman beralkohol,” ungkapnya.
Begitu pula, lanjutnya, kerusuhan di Sampit, Kalimantan Tengah, yang dipicu perkelahian para pemuda yang sama-sama mabuk. Mengakibatkan seorang pemuda Dayak mati.
“Akhirnya esok harinya orang Dayak membantai orang Madura. Gara-gara mabuk juga. Berapa kerugian harta, jiwa, benda pada saat itu gara-gara mabuk,” ujarnya.
Belum lagi, lanjutnya, kasus-kasus kecil yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Ada orang mabuk yang memperkosa anak kandung atau adiknya sendiri, juga pemabuk yang mengalami kecelakaan lalu lintas.
Diterima Istana
Shobri mengatakan, dalam aksi tersebut sejumlah perwakilan umat Islam diterima pihak Istana dari Deputi Pengaduan Masyarakat Sekretaris Negara. Mereka menyampaikan tuntutan massa akan penghentian peredaran miras secara total.
“Sudah kita sampaikan tadi dengan betapa gamblangnya, dengan sejelas mungkin, bahwa kita masyarakat sudah tidak bisa lagi membahasakan dengan bahasa yang baik atau dengan bahasa yang kasar,” ujarnya di depan ratusan anggota FPI dan GARIS.
Pihak istana, kata Shobri, berjanji akan menyampaikan seluruh aspirasi umat Islam kepada Presiden SBY. Janji istana ini disambut sorakan massa.*