Hidayatullah.com– Kasus seorang pria yang mengaku bernama Bambang Ariyanto telah melakukan pelecehan seksual terhadap banyak wanita mengundang keprihatinan. Pelecehan itu dilakukan Bambang dengan modus swinger (bertukar pasangan seks).
Diduga jumlah korban perilaku Bambang mencapai 300 orang terhitung mulai tahun 2014.
Lantas siapa sebenarnya Bambang?
Sebagaimana dihimpun hidayatullah.com pada Selasa (04/08/2020), Bambang diketahui mengakui dirinya sebagai seorang dosen.
Bambang diketahui sering membantu secara akademis di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Pihak UNU menegaskan bahwa secara struktural Bambang bukan dosen UNU.
Sementara itu, Bambang pernah berkontribusi di website Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dikelola Sekretariat Revolusi Mental Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Kontribusi itu diberitakan dalam bentuk tulisan, dengan judul ‘Menulis Itu Nyeni’ yang masih terpampang di website gerakan revolusi mental tersebut.
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Prof Purwo Santoso, mengakui bila yang bersangkutan pernah diperbantukan di kampus. “Dulu memang pernah bantu-bantu, tapi belum berstatus sebagai dosen,” ujar Purwo dikutip IndonesiaInside, Selasa (04/08/2020).
Sedangkan berdasarkan jejak digital yang diunggap warganet, “dosen” cabul tersebut dalam aktivitas di media sosial selama ini getol mendukung pemerintah. Bambang dikenal selama ini aktif di media sosial. Misalnya di Twitter, ia memiliki akun @BamsBulaksumur. Bambang diduga merupakan seorang pembenci ormas Front Pembela Islam.
“Selama ini akun @BamsBulaksumur dikenal olen netizen sebagai buzzer pendukung Jokowi dan Ahok yang kerap menyerang Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab.
Saat terjadi kerusuhan di Manokwari, Papua pada 19 Agustus 2019 lalu, melalui akun Twitternya, @BamsBulaksumur, Bambang berkicau yang menyudutkan FPI. Padahal kerusuhan Manokwari tidak ada kaitannya dengan FPI,” dikutip dari Riaunews.com, Senin (03/08/2020).
Bambang Ariyanto dikenal pula sebagai pendukung “Islam Nusantara” yang pernah digaung-gaungkan terutama oleh pendukung Jokowi sebelum Pilpres 2019 lalu. Warganet membongkar beberapa unggahan yang pernah disebut dibuat oleh Bambang lewat Twitter tentang Islam Nusantara. “Budaya kebaya seperti ini yg kudu terus dikembangkan krn Indonesia itu penganut Islam Nusantara bukan yg laen,” bunyi tulisan itu mengiringi sebuah gambar sejumlah wanita memakai kebaya.
Pengakuan Korban Pelecehan Modus Swinger
Sebelumnya, sebagaimana diketahui, Bambang Ariyanto membuat pengakuan yang mencengangkan publik. Ia mengaku sebagai pelaku pelecehan seksual dengan modus penelitian seks swinger.
Di antara korban kelakuan tidak terpuji Bambang itu mengungkap modus pria tersebut ketika beraksi. Seperti yang dituturkan korban berinisial I.
I menuturkan peristiwa yang dialaminya itu dimulai dari perkenalan hingga percakapannya dengan Bambang di akun medsosonya.
Pada awal kisahnya, menurut I, ia dihubungi pria yang mengaku sebagai dosen via pesan singkat di Facebook (FB). Sebelumnya keduanya tidak pernah bertemu maupun berkenalan.
“Cara mendekati aku dan target lain dengan modus riset itu dilakukan bertahap. Gak langsung sih,” sebut I dikutip Detik.com pada Selasa (04/08/2020) dari unggahan yang diposting pada Jumat (02/08/2020).
Setelah mengungkap maksudnya kepada I bahwa dia akan meneliti soal swinger atau bertukar pasangan seks, Bambang lalu bicara soal kepercayaan dari narasumber penelitian swinger.
“Menurutnya untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari nara sumber swinger, dia perlu melakukannya karena ini sesuatu yang banyak dan ada jaringannya. Menurutnya lagi, untuk bisa mendalami riset dan tau jaringannya itu ya harus melakukan,” urai I.
Selanjutnya, kata I, Bambang mengaku sudah meminta bantuan istrinya dalam riset ini. Artinya, kata I, pria itu dan istrinya menyewa satu atau dua kamar lalu akan bertukar pasangan di situ.
“Pak dosen dengan istri temannya dan si istri itu dengan teman swingernya. Katanya si istri menolak dan marah. Kubilang wajar istri marah karena dia ngawur,” lanjutnya.
“Di awal percakapan itu, kubiarkan dia ngoceh sambil kusambi-sambi. Dia cerita nikah lama 11 tahun dan tak punya anak,” kata I.
I juga menceritakan, Bambang juga bertanya pendapatnya. Namun I menjawab pertanyaan itu dengan pendek-pendek dan ketus.
Menurutnya, yang dipaparkan Bambang padanya adalah penelitian yang bodoh.
“Mau meneliti soal pembunuh ya tak harus jadi pembunuh. Mau penelitian soal prostitusi ya gak harus beli dulu atau jadi PSK “Peneliti tak harus melakukan hal seperti yang diteliti,” jawabku tegas. Kupikir penelitian apa. Jebul kayaknya dosen yang butuh cerita kemesumannya,” ungkap I.
Tak berhenti di situ, beberapa hari kemudian I mendapat pesan dari akun yang sama tapi bunyinya mengaku sebagai istri pemilik akun.
“Tiba-tiba beberapa hari berikutnya aku dijapri dr akun itu, ‘Mbak, aku istri mas X.. Ini dia lupa log out dan kubaca messagenya sama mbak. Aku bingung mbak harus gimana,’ katanya. Awalnya aku tetep mikir khusnudzon dia perempuan yang butuh kutolong dan kudengarkan,” kata I.
Namun berikutnya, I merasa semakin aneh dan yakin pesan itu ditulis oleh ‘dosen’ tersebut, bukan istrinya. I menyadari si dosen ingin pakai pendekatan curhat sesama perempuan.
“Rupanya mau modus pendekatan curhat sesama perempuan,” tutur I.
“Kubilang bahwa itu tak benar. Kalau suami maksa ya tolak. Tapi sesembaknya bilang takut dicerai. “Ya tinggal milih mau diajak swinger, atau atau mau cerai,” kataku tetep dingin. Bukannya tanpa empati. Soalnya aku ngrasa itu ya si dosen itu,” urainya.
Beberapa hari kemudian, I kembali mendapat pesan dari seseorang yang mengaku istri di dosen. Kepada I, orang itu mengaku akan menuruti suaminya karena sudah berjanji hanya akan melakukannya sekali.
“Kayaknya pak Dosen kelainan dan butuh cerita fantasynya, kepuasannya, kebanggaannya dan kesenangannya melakukan swinger. Atau bisa jadi mencari yang sefrekuensi, mencari kemungkinan partner baru karena yang dijapri banyak. Gak kutanggapi,” kata I.
“Beberapa hari lagi, masih berkedok istri japri lewat fb messenger suami yang gak log out, pura-pura lagi sedih dan nangis. Emang aneh sih. Tapi ya belum kublok saat itu,” sambungnya.
Dalam pesan itu, orang yang mengaku istri dosen tersebut bercerita diajak melakukan swinger lagi.
“Kayak dia butuh banget tempat cerita tapi gak mau solusi. Kujawab kalau tanya pendapatku ya ceraikan saja. “Aku gak mau ditanya lagi. Karena jawabanku akan selalu sama,” tegasku galak pada tanggal 13 Juli 2019,” kata I.
“Berikutnya aku gak dijapri-japri lagi. Eh jebulnya semalam aku baru tau Pak dosen ini menjapri ke sana sini. Beberapa mengaku pernah dihubungi dengan modus penelitian swinger ini oleh si dosen ini,” tuturnya.
“So buat yang lain, hati-hati ya. Hentikan percakapan dari awal. Jangan diladeni!” sarannya.
I menutup tulisannya dengan pernyataan bahwa tulisan ini bertujuan agar tak ada korban lainnya. Karena pria itu mengaku dosen, I mengaku khawatir pada mahasiswi-mahasiswinya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNU Yogyakarta, Muhammad Mustafid, memastikan Bambang tak akan pernah menjadi dosen di kampus itu setelah skandal pelecehan seksualnya terungkap.
“Tidak sama sekali tidak. Tertutup 1.000 persen (Bambang menjadi dosen),” ujar Mustafid di kampus UNU, Selasa (04/08/2020) kutip Kumparan.
Bambang diketahui terobsesi menjadi dosen di kampus tersebut. Tapi, lulusan S2 Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) itu tak dapat jadi dosen sebab jurusannya tak sesuai dengan program studi di UNU.
Demi memuluskan jalan menjadi dosen di UNU, Bambang melanjutkan studi S2 Akuntansi di Universitas Islam Indonesia (UII) dan baru saja lulus tahun 2020 ini.
Sementara jika melihat dari jejak digitalnya, Bambang Ariyanto menuliskan dirinya sebagai dosen akuntansi UNU Yogyakarta. Pada website Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang dikabarkan menuliskan keahliannya di bidang Akuntansi Politik Digital dari Universitas UNU Yogyakarta.
Meminta Maaf
Bambang Arianto sendiri telah menyampaikan permintaan maafnya secara terbuka. Ia mengaku rencana penelitiannya adalah bohong, bahkan lebih disebabkan keinginan berfantasi secara virtual. Dalam video, Bambang mengaku pernah melakukan pelecehan secara fisik.
“Hal itu dikarenakan kata swinger sering menghantui saya disetiap waktu,” sebutnya pada video yang viral. “Selain berfantasi secara virtual tentang swinger, saya juga pernah melakukan pelecehan secara fisik.”
Bambang Arianto menyebut, secara khusus memohon maaf kepada semua korbannya, baik dari kampus UGM Bulaksumur maupun yang lain, baik korban pelecehan baik secara fisik, tulisan, maupun verbal, yang menyebabkan trauma.
“Saya juga minta maaf kepada NU dan UGM karena selama ini menyalahgunakan nama NU dan UGM dalam mencari target,” akunya, yang juga meminta maaf kepada semua rakyat masyarakat Indonesia. Ia berjanji tak mau berbohong lagi.* (SKR)