Hidayatullah.com — Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengajak semua pihak di Tanah Air untuk bergabung dan berpartisipasi aktif dalam peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) setiap tanggal 26 April. Dia berharap hari itu dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan latihan.
Doni menyebut, lebih dari 1.000 bencana terjadi dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai lebih dari 470 jiwa pada awal tahun hingga April 2021. Ancaman bahaya perlu disikapi kemampuan individu yang diasah melalui latihan kebencanaan. Dia mengatakan bencana alam merupakan ancaman nyata kepada setiap individu yang berada di Indonesia.
Doni mengajak masyarakat melakukan latihan simulasi bencana secara serentak, dengan ditandai bunyi seperti kentongan, sirine maupun lonceng pada pukul 10.00 waktu setempat.
“Lakukan evakuasi mandiri ke tempat aman terdekat. Mari kenali ancaman bencana di sekitar kita,” kata Doni dalam keterangannya, Senin (26/04/2021).
Doni juga berharap setiap individu dapat memahami risiko bencana sehingga ini dapat menumbuhkan budaya sadar bencana. “Tingkatkan budaya sadar bencana agar kita dapat mengurangi korban jiwa dan kerugian harta benda,”ujarnya.
Pelaksanaan HKB pada tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan latihan tahun ini dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Namun, ini menjadi momentum dalam melatih setiap individu dengan penerapan protokol kesehatan di saat menghadapi ancaman bencana.
Di sisi lain, HKB mengusung tema ‘Siap Untuk Selamat’ merupakan kesempatan kepada setiap individu, keluarga, komunitas, masyarakat dan institusi untuk berlatih bersama menghadapi ancaman bahaya. Secara khusus, BNPB berharap dalam HKB kali ini masyarakat dan semua pihak memfokuskan pada uji sistem peringatan dini dan latihan evakuasi.
Sementara itu, BNPB melalui Lilik Kurniawan menyampaikan, kegiatan HKB diharapkan dapat mendorong keluarga dan masyarakat memiliki karakter budaya sadar bencana.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB itu mengatakan perlu strategi komprehensif untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan keluarga dan masyarakat, dalam menghadapi ancaman bencana. Menurutnya, langkah pencegahan bencana berupa peningkatan kesiapsiagaan dapat berawal dari unit terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga.
“Sehingga setiap orang dalam keluarga tersebut dapat menyelamatkan diri sendiri dan lingkungan sekitar apabila terjadi bencana,” ujarnya.
Di samping latihan evakuasi, keluarga dapat melakukan Latihan lain, seperti menyusun rencana darurat keluarga, melihat secara bersama akses evakuasi dari dalam rumah yang aman, mengetahui fisik bangunan tempat tinggal dan upaya pengamanan apabila terjadi banjir atau gempa bumi, atau memanfaatkan aplikasi dalam mengidentifikasi risiko melalui InaRISK.
Keluarga Tangguh tak hanya ditentukan dari pengetahuan kebencanaan tetapi juga latihan. BNPB berharap individu tangguh sejak dini dimulai dari lingkup keluarga.*