Hidayatullah.com– Irny Rahmawati, istri Ahmad Zain An-Najah, salah seorang dai yang ditangkap Densus 88, menegaskan bahwa tuduhan sangkaan terkait terorisme terhadap suaminya itu adalah fitnah yang sangat keji.
“Subhanallah, saya lihat beliau juga orang yang lembut, orang yang jauh sekali dari tuduhan, bagi saya itu sangat keji tuduhan teroris,” ujar Irny dalam wawancara langsung ditayangkan TvOne, Kamis (18/11/2021).
Irny bersama pengacara Ismar Syafruddin dan salah seorang putra Farid Ahmad Okbah, Ibrahim Okbah, pada Kamis mendatangi Bareskrim Polri di Jakarta untuk bertemu Zain An-Najah dan dua dai lainnya yang ditangkap Densus 88, yaitu Farid Ahmad Okbah dan dan Anung Al-Hamat.
“Belum (ketemu suami), belum sama sekali!” ujar Irny dengan suara tertahan saat ditanya apa sudah bertemu suaminya.
Irny menuturkan, suaminya, Zain An-Najah, ditangkap di luar rumahnya. Saat itu, Selasa (16/11/2021), Zain An-Najah sedang tidak di rumah dan mengikuti kegiatan ibadah subuh di masjid.
“Ketika proses penangkapan, Ustadz (Zain) sedang shalat subuh di masjid. Sampai jam 5.30 (WIB) itu saya cek kok (suami) nggak pulang-pulang. Saya pikir itu mungkin lagi biasanya banyak bertanya gitu jadi enggak pulang.
Terus sampai jam 6 di rumah itu pintu digedor-gedor gitu, maksudnya dibel gitu, tapi kok pas saya mau turun itu ngintip gitu, pada ngintip. Loh kok pada ngintip gitu? Kaget saya. Memang agak lama proses saya membukain pintu,” tuturnya.
Baca: Keluarga dan Kuasa Hukum Farid Okbah Cs Datangi Mabes Polri dan Komnas HAM
Saat itu di depan rumahnya penuh orang. “Jadi saya ragu ini kenapa banyak orang. Terus, setelah saya lihat ke asrama putri tempat itu anak-anak santri tahfizhul quran itu,” tuturnya. Saat itu terlihat orang ramai berkumpul di depan rumah. Di situ katanya ada Pak RT dan Pak RW.
Irny turun kemudian membukakan pintu rumah, lalu langsung mereka aparat Densus 88 bilang, “Bu kami izin untuk penggeledahan”
“Ada apa ini? Bapak terkena tindak pidana teroris (jawab aparat).”
“Saya bilang itu fitnah, saya bilang gitu,” katanya.
“Bapak sudah diamankan!” ujar Petugas disebut Irny.
“Tunggu dulu! saya bilang gitu. Terus saya menuju ke kamar gitu tapi ternyata mereka sudah mengikuti dan masuk ke kamar pribadi kami. Kemudian (aparat) melakukan penggeledahan yang saya itu merasa tidak rela, saya merasa ini kok ustadz, ulama, kok diperlakukan seperti bukan manusia. Saya tuh saya gak rela. tapi itu dilakukan.”
Lalu, tuturnya, barang barang berharga Zain diambil semuanya oleh aparat. “Pokoknya kamar itu kamar adalah keramat, privasi, udah, digeledah semuanya.”
Lalu Irny bertanya kepada petugas dibawa kemana barang-barang Zain yang diambil itu? Apakah nanti dikembalikan?
“Dikembalikan nanti kalau tidak rusak,” jawab aparat sebagaimana diucapkan Irny.
“Semua, ada laptop, ada semuanya diambil yang barang-barang berharga beliau,” tambah Irny.
Ia pun menuturkan, sehari-sehari Zain kerjanya menulis, membaca berceramah, mengajar, memberikan bimbingan umat, dan memberikan perhatian kepada semuanya.
Sehingga, Irny menegaskan, tuduhan teroris terhadap suaminya adalah tuduhan yang keji. “Karena beliau itu orangnya lembut, kemudian kalau seandainya beliau itu membaca buku kemudian mendapatkan satu ilmu, itu begitu bahagia seperti lebih dari mendapatkan uang, karena beliau itu cinta ilmu.”
Beberapa kali Irny menegaskan bahwa suaminya bukanlah teroris. “(Suami saya) jauh dari dari tuduhan tindak kekerasan teroris itu. (Tuduhan) itu sangat keji bagi saya,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya Polri menyatakan penangkapan tiga orang dengan dugaan terorisme, Farid Ahmad Okbah, Ahmad Zain An-Najah serta Anung Al-Ahmat merupakan hasil pengembangan dari penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror Polri sebelumnya.
Disebutkan bahwa ada 28 berita acara pemeriksaan (BAP) dari para tersangka teroris yang menyatakan bahwa ketiga orang tersebut terlibat dalam aktivitas jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI).
“Ada 28 berita acara pemeriksaan tersangka dan keterangan ahli serta dokumen yang menjurus pada tersangka, yaitu, FAO, AZA, dan AA,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Rusdi Hartono, Rabu (17/11/2021).*