Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ketua PP Muhammadiyah: Masa Depan Indonesia Cerah, Tidak Membenturkan Agama dan NKRI

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 September 2022 10:06 10:06 am
Ahmad
Dipublikasikan 1 September 2022 10:00
Bagikan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir
Bagikan

Hidayatullah.com— Menakar Indonesia ke depan, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir bangsa Indonesia harus bisa melihat masa kini dan masa lalu. Meski banyak prediksi masa depan Indonesia cerah, akan tetapi didalamnya terdapat pertanyaan terkait dengan beberapa hal seperti basic nilai, sumber daya alam, dan pengetahuan.

Oleh karena itu, syarat pertama menuju masa depan cerah adalah ‘mengkonfirmasi’ bagaimana menempatkan dan mengaktualisasikan nilai dasar berbangsa Indonesia yaitu Pancasila, agama dan Kebudayaan Luhur Bangsa. Karena ke depan Pancasila harus menjadi nilai yang dimanifestasikan bukan dipahami pada ranah potensial saja.

Terkait konsep bernegara, Muhammadiyah memiliki konsep Indonesia sebagai Negara Pancasila Darul Ahdi Wa Syahadah. Di sisi lain, mengutip Buya Syafii Maarif bahwa sila-sila Pancasila harus diimplementasikan semuanya.

Tidak boleh dari sila-sila tersebut dianaktirikan. Lebih-lebih sila kelima, yaitu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila kelima ini sering luput digemakan dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Haedar senantiasa mengajak bangsa ini untuk selalu bertanya, apakah Pancasila sudah diimplementasikan? Seraya terus menggali cara-cara implementatif terhadap sila-sila Pancasila, Guru Besar Sosiologi ini menegaskan bahwa, di Indonesia ada tiga hal yang tidak boleh dipertentangkan yaitu Pancasila, agama dan nilai luhur bangsa, tidak membentur-benturkan agama dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Kedua masa depan Indonesia ditentukan oleh cara merawat hasil kemerdekaan. Sebab merawat ini bukan suatu yang mudah. Merawat ini bekerja,” ucap Haedar di Stadium General “Menakar Indonesia ke Depan” di Universitas Surabaya (UBAYA), Rabu (31/8/2022) dikutip laman Muhammadiyah.

Terkait masa depan yang cerah, syarat ketiga adalah harus disiapkan insan – bangsa yang mampu dan berdaya saing. Menurutnya, manusia-manusia Indonesia tidak cukup yang diperbaiki atau diperkuat hanya yang bersifat material. Tetapi juga ruh, iman dan akhlak. Meski kecenderungan manusia modern adalah menegasikan ruh, iman dan akhlak, namun bagi bangsa Indonesia tidak boleh, sebab harus beriman dan berakhlak sesuai dengan agama masing-masing. Agama dan Indonesia bukanlah suatu yang harus dipertahankan.

“Masa depan kita akan ditentukan oleh seberapa jauh kesamaan pandangan terhadap hal-hal yang krusial,” tuturnya.

Terkait masalah intoleransi dan radikalisme yang selalu dikaitkan dengan agama, Haedar tegaskan statement tersebut itu keliru. Mengutip dari berbagai sumber, menurutnya radikalisme juga bisa muncul karena motif kedaerahan, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Oleh karena itu dirinya mengajak bangsa ini untuk berdialog tentang hal-hal krusial, sehingga sesama bangsa tidak ada saling curiga.

Selanjutnya yang perlu dijadikan bingkai masa depan Indonesia adalah road map kebangsaan. Menurutnya masa depan tidak bisa berjalan alamiah tetapi harus dirancang. Rancang bangun Indonesia yang tepat adalah bhinneka tunggal Ika bukan multikulturalisme. Bhinneka tunggal Ika, kata Haedar, sangat kaya karena didalamnya merupakan hasil pemikiran dari banyak tokoh bangsa.

“Multikulturalisme itu hanya merayakan perbedaan, tetapi lupa merajut atau merayakan persatuan. Bangsa itu mesti ada dinamika, pasti akan mengalami gesekan. Jangan sampai anti perbedaan dan gesekan, nanti jadi bangsa yang cengeng. Akan tetapi perlu dipetakan mana bagian yang dinamis dan yang baku,” ucapnya.

Ke depan, jangan anti gesekan. Karena bangsa yang dewasa itu sadar dan mampu melewati gesekan itu dengan baik. Jika tanpa adanya gesekan, Haedar khawatir Indonesia menjadi bangsa yang cengeng. Serta yang penting untuk menyambut masa depan Indonesia cerah adalah tentang melakukan persatuan atau manunggal.

Selain Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, juga hadir Ketua Umum Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rektor UBAYA, Benny Lianto, Ketua Yayasan, Anton Prijatno, Sekretaris PWM Jatim, Tamhid Mashudi, Rektor UM Surabaya, Sukadiono dan Rektor UMSIDA, Hidayatullah.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:masa depan Indonesiamembenturkan agama dan NKRIMuhammadiyahMuhammadiyah dan NKRI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya khutbah jumat majelis Khutbah Jumat: Inilah Lima Majelis Kebaikan yang Dijamin Allah
Tulisan selanjutnya Partai Komunis China akan Gelar Kongres, Xi Jinping Incar Nambah Masa Jabatan Tiga Periode

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?