Hidayatullah.com– Memasuki hari ke-9 pasca gempa, banyak anak-anak pengungsi di Palu-Sigi-Donggala, Sulawesi Tengah, mulai terserang demam dan diare. Di daerah Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, anak-anak hingga dewasa banyak yang terkena demam dan diare, kebanyakan juga mereka batuk-batuk.
Asfah, 10 tahun, korban selamat desa yang hanyut di Jono Oge, Sigi, saat ini mengungsi di Pombewe bersama keluarganya yang selamat, sejak pasca gempa hari kedua dia sudah mulai batuk-batuk, demam dan diare.
Baca: Pelayanan Medis, Relawan Dokter IMS Jangkau Lokasi Tersulit di Palu
“Belum ada dokter yang datang. Kami juga tidak tahu mau kemana karena masih trauma,” ujar Ramlah, 35 tahun, ibu Asfah kepada hidayatullah.com, Sabtu (06/10/2018).
Hal yang sama juga terjadi pada Roni, 8 tahun, di lokasi pengungsian yang sama. Sejak hari kedua usai gempa, dia mulai diare, lalu demam disusul batuk-batuk.
Baca: Jono Oge, Desa yang Dihanyutkan Lumpur Sejauh 3 KM di Sigi
Sulthon dari tim medis Islamic Medical Service (IMS) yang menangani medis di lokasi tersebut pada Sabtu (06/10/2018), mengatakan salah satu faktor terjadinya hal itu adalah kondisi tenda yang terbuka, malam berangin, jika siang panas dan berdebuh.
“Kebutuhan makan dan air bersih untuk konsumsi sangat dibutuhkan mereka agar tidak terjadi dehidrasi,” lanjutnya.*/Sirajuddin Muslim
Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media