HARI Jumat kemarin (05/10/2018) tepat seminggu musibah besar melanda Palu, Sulawesi Tengah. Sebagaimana biasa, Tim SAR dan Relawan Hidayatullah terus saja berdatangan secara bergelombang, baik untuk melengkapi tenaga yang ada maupun menggantikan tenaga yang “terpaksa” harus pulang lebih awal, mengingat mereka punya tugas dan tanggung jawab di daerah masing-masing.
Bila memperhatikan mereka satu persatu, terlihat jelas bila mereka bukanlah robot yang tidak mengenal kata lelah. Namun bukan berarti menjadikannya sebagai alasan untuk mengurangi intensitas kerja mereka, sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Dankorlap setiap paginya.
Apalagi kita semua bersepakat membersamai tuan rumah di kampus Hidayatullah Palu untuk shalat Jumat berjamaah di masjid kampus, yang otomatis konsekuensinya kita harus bergerak lebih awal agar tidak terlambat balik ke kampus.
Baca: Kisah Relawan: Evakuasi Diancam Warga, Cari Mayat Dapat Ikan Busuk
Salah satu yang menarik kemarin, khusus tim distribusi kelewat semangat ingin menyenangkan para pengungsi, sehingga barang yang kami bagikan lebih banyak dari biasanya, namun akhirnya benar-benar bablas.
Berawal dari kedatangan keluarga Ketua Mushida Sulsel, dimana saya sendiri yang menyambutnya, dengan penuh percaya diri langsung “menantang” untuk menyebutkan apa saja yang dibutuhkan oleh para pengungsi di tempat mereka dan setelahnya bagian gudang segera menyiapkan.
Saya tersentak ketika barang sudah berjejer… Mereka (pengungsi) kemudian menegaskan, kalau yang paling dibutuhkan adalah air minum, yang membuat saya nyaris “pingsan”, tatkala bagian gudang menjelaskan, kalau satu gelas pun tak tersisa air mineral di gudang.
Saya sangat sulit untuk mempercayainya, bagaimana mungkin kebutuhan yang sangat vital sampai kosong. Apalagi seusai shalat Jumat, salah satu ketua divisi langsung meminta tenaga 8 orang untuk membantunya ke pelabuhan feri menggunakan truk, guna menurunkan barang kiriman dari Pesantren Hidayatullah Toli-Toli. Persis kayak anak-anak yang berebutan mengangkat tangan merespons tawaran permen kesukaan mereka.
Saat Kota Palu sebagaimana biasanya, khususnya di siang hari selepas shalat Jumat, panasnya matahari benar-benar menyengat, tapi mereka tetap ikhlas berangkat, yang belakangan baru saya tahu, kalau tak ada setetespun air minum yang menjadi bekalnya.
Namun Alhamdulillah…
Kawan-kawan Hidayatullah Toli-Toli mengirimkan air mineral (baik yang gelas maupun botol) sebanyak 100 dus dan kemudian datang secara bergelombang dari berbagai sumber. Sekali lagi. Saya benar-benar dibuat terpesona oleh para relawan dan khususnya Tim SAR Hidayatullah. Semoga Allah tetap menyehatkan dan memberkahi kerja-kerja besar yang kalian angkat.*
Ustadz Akib Junaid | Pengarah TASK Hidayatullah Peduli Palu
Baca: Digoyang Gempa Susulan di Palu, Jamaah Tetap Selesaikan Shalat