Hidayatullah.com- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan banyak kenangan manisnya terhadap mendiang KH Salahuddin Wahid (Gus Solah).
Di antara yang dikenang Haedar bahwa Gus Solah merupakan sosok yang ingin menjaga persatuan umat dan bangsa.
Misalnya, saat Pilpres 2019 lalu yang berlangsung cukup panas antara dua kubu, Gus Solah turut menggalang upaya agar umat tidak terpecah belah.
“Beliau tidak ingin Pemilu menjadi faktor pemecah belah dan berujung pada kegaduhan politik yang meruntuhkan persatuan, demokrasi, dan kebersamaan,” ujar Haedar di Yogyakarta dalam pernyataannya diterima hidayatullah.com pada Senin (03/02/2020) pagi.
Pada Pemilu 2019, Haedar mengaku intensif bertemu bersama banyak kalangan untuk menggalang moderasi dan tidak terlibat politik partisan agar ada kekuatan penyeimbang. Gus Solah salah satu penyeimbang dimaksud.
Haedar juga menuturkan, pada tahun 2017 ia bersama istri serta Gus Solah bersama istri menunaikan ibadah haji undangan khusus Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Alu Suud.
“Dalam musim haji tersebut saya bersama Gus Sholah termasuk rombongan perwakilan dunia Islam yang bertemu Raja Salman di Istana Mina. Gus Sholah sosok yang sederhana dan santun. Selama sekitar dua minggu kami ngobrol dan berdiskusi banyak hal tentang Muhammadiyah dan NU, umat Islam, bangsa, dan perkembangan global. Wawasan Gus Sholah moderat dan melintasi, selalu menjaga keseimbangan,” ungkapnya.
Selain itu, Haedar juga mengaku sudah kenal lama dengan almarhum Gus Solah sebagai sosok yang rendah hati.
“(Beliau) bergaul luas dengan banyak kalangan, moderat, memiliki komitmen keislaman yang kuat, dan visi kebangsaan yang luas,” tuturnya.
Selain itu, Gus Solah sangat konsens pada demokrasi dan hak asasi manusia dengan konsisten, kenangnya.
Haedar bercerita bahwa pada Jumat (31/01/2020) yang lalu ia baru saja membesuk almarhum Gus Solah yang sedang dalam proses operasi jantung di RS Harapan Kita Jakarta. Saat itu ia diterima Farida Solahudin Wahid, Lukman Hakim Syaifuddin mantan Menag periode lalu, Lily Chodidjah Wahid, dan dr Umar Wahid adik Gus Solah, serta keluarga lainnya.
Sebelum Gus Solah terbaring sakit, Haedar mengaku masih berkomunikasi tentang rencana pemutaran Film Dua Tokoh Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim Asyari, yang rencananya akan mengundang Presiden RI.
“Beliau begiturupa ingin agar umat dan masyarakat luas mengenal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari, kedua tokoh umat dan bangsa yang besar jasanya dan melahirkan Muhammadiyah dan NU sebagai warisan terpenting,” ujar Haedar.
Haedar juga menyampaikan bahwa perhatian Gus Solah terhadap pendidikan sangat luar biasa, terutama untuk pengembangan pendidikan Islam yang berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni.
“Kita lepas kepergian Gus Sholah dengan ikhlas, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga almarhum husnul khatimah dan diterima di sisi Allah Subhanahu Wata’ala,” tutup Haedar.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Solahudin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah meninggal pada pukul 20:50 WIB di RS Harapan Jakarta semalam, Ahad (02/02/2020).*