Hidayatullah.com—Hari Senin (30/09/2013), Yayasan Daarul Qur’an Indonesia menyelenggarakan Konferensi Internasional Tahfidz Qur’an di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang.
Pembukaan konferensi dihadiri Ustadz Yusuf Mansur selaku Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Qur’an, Wakil Walikota Tangerang H Sahrudin, Wakil Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia Syeikh Usamah, Ketua Litbang Organisasi Tahfidz Dunia Dr Ahmad Anas Khozrun, dan Ustadz Bachtiar Nasir dari Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
Konferensi Tahfidz diikuti ratusan perwakilan Pesantren Tahfidz dan Madrasah dari berbagai propinsi di Indonesia.
Dalam sambutannya Ustadz Yusuf Mansur mengatakan, konferensi ini bermaksud untuk semakin meningkatkan kualitas proses pengajaran menghafal al-Qur’an di pesantren dan madrasah di Indonesia.
Ia mengingatkan, al-Qur’an adalah obat segala permasalahan manusia.
“Alhamdulillah saya sudah merasakannya. Maka itu ke depan cita-cita kita adalah hadirnya Presiden Indonesia yang juga seorang penghafal Al-Qur’an hingga masalah yang ada di Indonesia saat ini bisa dicari solusinya,” tutur Ustadz Yusuf.
Sementara itu Wakil Walikota Tangerang mengatakan turut bangga dengan penyelenggaraan konferensi bertaraf internasional di Tangerang. Ia berharap konferensi akan membawa maslahat tidak hanya bagi lingkungan pesantren tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.
Sedangkan Ustadz Bachtiar Nashir mngingatkan, al-Qur’an tidak boleh sebatas dihafal, tapi ditadabburi dan diamalkan.
“Menjadi tugas kita selain menghafal ayat al-Qur’an dan memahami isinya juga memiliki keberanian untuk melakukan nahi mungkar selain amar ma’ruf,” ujar Bachtiar Nashir.
Ia mencontohkan bagaimana baru-baru ini digelar kontes Miss World yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia. Menurutnya, pelaksanaan kontes ini terjadi karena suara para ulama yang dekat dengan al-Qur’an sudah tidak lagi di dengar oleh pemerintah.
Syeikh Usamah dalam sambutannya mengatakan, organisasi tahfid Internasional hendaknya konsisten dalam mengajarkan al-Qur’an di dunia.
“Saya sangat senang dan terharu saat mendengar anak-anak kecil melantunkan al-Qur’an dengan fasih. Semoga ini bisa terus dilakukan oleh semua pihak yang hadir di sini,” ia berharap.
Dalam konferensi yang akan berlangsung hingga Rabu (02/10/2013) ini akan dibahas beberapa permasalahan dalam penyelenggaraan program tahfidz (hafalan Qur’an) di madrasah dan Pesantren Tahfidz. Selanjutnya, dirumuskan solusinya secara bersama-sama.*/Bowo