Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Diskusi Publik INSISTS: Keragaman Indonesia dalam Timbangan Worldview Islam

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 20 Desember 2020 17:24 5:24 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 20 Desember 2020 17:24
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) mengadakan diskusi public yang diselenggarakan dalam format webinar Zoom pada Ahad (20/11/2020). Acara tahunan yang rutin diselenggarakan oleh INSISTS setiap akhir tahun itu mengambil judul “Diskusi Publik: Keragaman dan Keindonesiaan dalam Timbangan  the Worldview of Islam”.

Diskusi tersebut menghadirkan lima pembicara yang merupakan tokoh INSISTS dan beberapa di antaranya juga merupakan pendiri lembaga tersebut.  Dr Anis Malik Thoha yang merupakan asisiten professor di Internationl Islamic Univesity Malaysia (IIUM), membuka diskusi dengan menyinggung  beberapa hal kontroversial pada tataran pemikiran yang terjadi di Indonesia beakangan ini.

Dr Anis di antaranya menyinggung pernyataan Yudi Latief, Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), yang menyebutkan bahwa Indonesia berada dalam krisis karena gagal membudayakan Pancasila. Yudi Latief juga menulis dalam bukunya, “Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun untuk Pembudayaan”, bahwa ia memimpikan budaya Pancasila menurut pengertiannya ini dapat menjadi sebuah agama sipil.

Menanggapi hal tersebut, Dr Anis mengatakan bahwa salah satu indikasi pluralisme adalah munculnya agama baru yang disebut agama sipil. Agama sipil adalah wacana yang muncul pada tahun 1967 di Amerika.

Pria yang juga dikenal sebagai para pluralisme agama itu juga menegaskan bahwa terdapat banyak perbedaan nilai antara Amerika dengan Indonesia, dalam hal ini antara umat Kristen dengan Islam. “(Bagi umat Islam) (nilai-nilai ini) akan berimplikasi pada dunia dan akhirat,” ujarnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Anis juga mengungkap bahwa umat Islam ini tidak memiliki masalah dengan Pancasila. “Yang menjadi masalah adalah jika Pancasila diangkat kedudukannya melebihi agama,” ujarnya.

Melanjutkan topik tersebut, Dr Syamsuddin Arif, mengungkap bahwa sebenarnya memang ada benturan antara ideologi Pancasila dengan agama, dalam hal ini Islam.   “Memang keduanya berbenturan, setidaknya dalam beberapa sisi. Dengan kata lain akan ada saat kita harus memilih mengikuti otoritas Allah atau negara,” ujarnya.

Dr Syamsuddin juga menerangkan mengenai posisi konstitusi bagi umat Islam. “Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak melakukan kontrak (akad), dan itu hal yang harus dihormati. Konstitusi sebenarnya adalah akad, kita harus memperlakukan dann menghormatinya sebagai akad. Namun akad tidak bisa lebih tinggi dari Al-Qur’an. Akan ada saat-saat akad itu menjadi fasid. Jadi dasarnya bukanlah akad namun keimanan / ketaqwaan,” ujarnya.

Sementara salah satu pembicara, Dr Arifin Ismail menegaskan bahwa agama adalah asas kenegaraan dan tugas kita sekarang adalah memasukkan wordview Islam ke dalam setiap lini kehidupan masyarakat.  Ia juga mengungkap bahwa terdapat dikotomi dalam umat mengenai peran hamba dan khalifah.

Menurut Dr Arifin, inilah yang dilakukan oleh para orientalis untuk merusak Islam. Tugas utama umat Islam saat ini, menurut Dr Arifin, adalah Islamisasi ilmu, sehingga keeragaman dapat terbina dalam satu worldview Islam.

“Untuk melawan tantangan yang akan terus datang, kita perlu membuat antisipasi, yakni bagaimana umat ini memiliki pondasi yang cukup untuk tidak mudah terpengaruh. Masyarakat perlu diajarkan agar bisa mendeteksi istilah-istilah yang bermasalah,” ungkap Dr Arifin.

Pembicara lainnya, Dr Nirwan Syafrin Manurung, mengungkap fakta perkembangan umat Islam yang tidak diiringi dengan kesadaran politik yang sama.  “Namun di tengah perkembangan keber-agamaan ini, di tataran politik, suara umat Islam tidak berkembang signifikan. Yang membelah umat Islam di kalangan bawah adalah perpecahan dalam pandangan politik, sehingga suara umat tidak terkanalisasi,” ujar pengajar di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor  ini.

Sementara Dr Henri Shalahuddin, yang berbicara dari Istanbul, Turki, mengingatkan akan bahaya feminisme bagi umat Islam. Ia mengungkap bahwa feminisme melihat manusia berdasarkan jenis kelaminnya bukan dari isi kepalanya atau nilai dirinya.

“Feminis akhirnya terjerumus kepada anti agama hingga kemudian berujung pada kekerasan pada sesama perempuan,” ungkapnya.

Acara yang dimulai pada pukul sembilan pagi tersebut berakhir pada pukul setengah satu. Direktur eksekutif INSISTS, Asep Sobari, Lc, yang menjadi moderator acara menutup diskusi dengan sebuah kesimpulan. Diskusi ini, menurut Asep Sobari, menunjukkan pentingnya memahami kedudukan manusia di antara makhluk lainnya dan pentingnya memahami worldview Islam.*

 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KeindonesiaanKeragaman Indonesiapluralismeworldview Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Oksigen Ventilator Pasien Covid-19 Meledak, 9 Orang Meninggal
Tulisan selanjutnya Pakistan Menuduh India Bersiap untuk ‘Serangan Bedah’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?