Hidayatullah.com– Musyawarah Nasional V Muslimat Hidayatullah resmi dibuka pada Sabtu (26/12/2020) pagi. Munas dengan tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam” ini digelar secara virtual, dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.
Peserta yang hadir di ruang acara berjumlah 80 orang, terdiri dari Pengurus Majelis Murobbiyah, Majelis Penasehat, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, serta perwakilan dari Pengurus Wilayah dari seluruh provinsi di Indonesia
Selain itu, Munas ini dilakukan secara virtual dengan diikuti seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah yang disiarkan melalui live streaming kanal Youtube Hidayatullah ID. Pembukaan Munas V Mushida diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Neny Setiawaty, Ketua Umum PP Mushida periode 2015-2020 Reni Susilowaty, dan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Nashirul Haq.
Dalam sambutannya, Neny Setiawaty mengingatkan agar seluruh peserta selalu menaati peraturan protokol kesehatan. “Semua peserta wajib mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menghindari kontak fisik, memakai hand sanitizer, mencuci tangan, dan selalu memakai masker,” jelasnya.
Neny juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini.
Sementara Ketua Umum Mushida Reni Susilowaty dalam sambutannya mengatakan pentingnya peran seorang Muslimah sebagai istri, dan ibu dari anak-anaknya. “Ibu ialah pendidik, dan role model dalam bersikap, beribadah, berakhlak, serta berihsan,” ucapnya.
“Berbagai tantangan yang ada, harus dihadapi Mushida dalam rangka menguatkan ketahanan keluarga Indonesia,” ujarnya.
Reny juga mengungkapkan bahwa Munas V Mushida ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih dan menghasilkan program pemberdayaan umat melalui integritas yang dimiliki oleh setiap Muslimah.
Sedangkan Nashirul Haq dalam amanatnya sekaligus membuka acara menyampaikan bahwa Hidayatullah telah berdiri selama lebih dari 47 tahun. Hidayatullah telah memegang teguh kesetiaan, semangat mengabdi kepada Ilahi, berkhidmat untuk agama dan umat, serta berkhidmat untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia lewat berbagai program di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi keummatan.
“Yang menjadi tantangan bahwa Muslimat Hidayatullah harus serius dan fokus menjalankan peran dan fungsinya untuk membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam,” jelas Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.
Lebih lanjut, Nashirul juga mengungkapkan bahwa rahasia suksesnya seorang suami dalam menjalankan amanahnya tergantung pada peran istri dan Muslimah dalam mengatur keluarga di rumah.
Yang tak kalah penting, doktor lulusan IIUM tersebut mengimbau bagi seorang Muslimah yang diberi amanah untuk berdakwah di luar rumah harus menjalankan tugasnya dengan proporsional.
“Tak ada yang didahulukan, dan tak ada pula yang diabaikan. Semuanya harus berjalan seimbang sebagaimana Ummahatul Mu’minin, istri Nabi yang juga berperan sebagai daiyah yang memiliki tanggung jawab di luar rumah,” tambahnya.
Seorang Muslimah memiliki jiwa paradigma berpikir yang lurus hingga menjadi karakter yang melekat dalam dirinya. Paradigma yang lurus tersebutlah yang akan mengantarkan kesuksesan setiap pribadi Muslimah.
“Pola pikir harus berpijak pada wahyu Allah. Sehingga program yang diwujudkan Mushida merupakan derivasi dari Al-Qur’an dan sunnah,” ucap Nashirul di hadapan puluhan peserta yang hadir secara langsung di ruang acara.
Baca: Istri KH Abdullah Said Ajak Daiyah Selalu Menautkan Hati di Jalan Dakwah
Dewan Pembina YPP Hidayatullah Pusat Balikpapan itu pun berpesan kepada seluruh kader Muslimat Hidayatullah agar jangan pernah keluar dari barisan jamaah. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab: Jika ada suatu kelompok sebanyak tiga orang hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin atas mereka. Itulah amir yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. (HR Ibn Khuzaimah dan al-Hakim)
“Setiap kader adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kaum Muslimin. Spirit harus selalu menyatu untuk meninggikan kalimat tauhid. Mushida adalah wasilah dalam berislam, dan sebagai wadah penyebaran dakwah dalam rangka membangun peradaban Islam,” pungkas Nashirul.
Berlangsung dalam acara pembukaan Munas V Mushida ini, peluncuran tiga buku. Pertama, antologi berjudul “Untaian Aksara Bunda” yang ditulis oleh 27 penulis Muslimat Hidayatullah. Buku ini berisi pengalaman penuh hikmah dari para bunda dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kedua, buku Profil Sekolah PAUD-TK Integral Hidayatullah se-Indonesia.
Dan ketiga, buku Syakhsiyyah Muslimah ditulis oleh enam pengurus Mushida periode 2015-2020. Buku ini merupakan diary Muslimah, dilengkapi konten yang dibutuhkan oleh seorang Muslimah yang mengharap hidupnya terpandu dan terbingkai oleh syariat Islam.* Arsyis Musyahadah