Hidayatullah.com–Umat Kristen Palestina yang berdiam di Bethlehem hari Senin (29/04/2013) mendesak Paus Francis berbicara menentang keputusan Zionis Israel untuk membangun tembok pemisah kontroversial pada rute, yang mereka katakan akan memotong komunitas mereka.
“Kami menangis kepada kekudusan Anda, dengan perasaan putus asa dan urgensi untuk menjaga hidup harapan kami, berharap keadilan dan perdamaian masih mungkin,” kata satu surat terbuka dari Kristen Beit Jala, kota dekat kota Tepi Barat Betlehem.
“Pendudukan militer Israel yang telah membangun ‘tembok terkenal’, mencaplok tanah Palestina … (adalah) memisahkan Betlehem serta daerah lain dari al-Quds (Yerusalem), dan tempat-tempat suci kami,” katanya.
Surat itu dikirmkan saat Presiden Israel Shimon Peres dijadwalkan tiba di Italia pada kunjungan tiga harinya, yang di antaranya akan bertemu Paus Francis.
“Kami dengan hormat meminta Anda memanfaatkan pertemuan ini untuk menyampaikan pesan yang kuat tentang orang-orang Palestina, dan khususnya kasus tanah Cremisan Beit Jala itu,” katanya.
Surat itu menambahkan: “Kita perlu tindakan nyata untuk mengakhiri impunitas (kekebalan) Israel sehingga kita dapat hidup dengan martabat di dalam negara merdeka kami … kekudusan Anda, pemilihan Anda, membuat kita berharap ada hal yang akan berubah. Kami masih berharap..”
Pengadilan Israel pekan lalu memutuskan mendukung pembangunan, yang disebut tembok pemisah, melalui 170 hektar lembah, di mana banyak umat Kristen dari Beit Jala bekerja pada tanah dan kebun-kebun anggur.
Tembok penghambat tersebut direncanakan akan memotong rute mereka dari lembah, dan akan efektif memisahkannya dari al-Quds, yang berjarak lima kilometer jauhnya.
Mahkamah Internasional memutuskan pada tahun 2004, bagian-bagian tembok itu tidak sah dan harus dirobohkan.
Di daerah Cremisan, tembok penghambat itu akan menjadi halangan berat dari Jalur Hijau, garis yang diterima secara internasional menandai pemisahan antara Israel dan wilayah yang diduduki pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari.
Kementerian Pertahanan Israel bersikeras bahwa tembok itu untuk melindungi Israel dan rute tersebut ditentukan oleh “pertimbangan keamanan khusus” di daerah itu.
“Membangun Tembok di daerah Betlehem bukan hanya pelanggaran hukum internasional … juga merupakan serangan terhadap tatanan sosial Palestina dan kehadiran Kristen Palestina,” kata Nabil Shaath, anggota partai Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas.
“Ini memisahkan Bethlehem dari al-Quds untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pemisahan Palestina, terutama Kristen, dari tanah mereka dalam upaya membangun dan memperluas pemukiman kolonial Israel. Pembangunan dinding dan pos-pos pemeriksaan adalah kejahatan kejam, yang akan lebih menutup kemungkinan terhadap perdamaian,” katanya, dalam laman Ma’an News Agency.*