Hidayatullah.com– Al Jazeera menyiarkan sebuah film dokumenter berjudul “Kotak Hitam”, yang menguak informasi baru mengenai peristiwa “Jumat Kelabu” di Rafah, selatan Jalur Gaza musim panas tahun lalu. Laporan terbaru Amnesti Internasional menyebutnya sebagai hari “pembantaian massal”.
Insiden “Jumat Kelabu” yang terjadi pada awal Agustus 2014 seharusnya menjadi hari pertama gencatan senjata selama 72 jam antara tentara Zionis dan Hamas.
Media Zionis melaporkan bahwa tiga serdadu terbunuh saat sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam melakukan upaya penculikan di terowongan. Kemudian, Zionis membalas penculikan itu dengan pembantaian terhadap lebih dari 100 warga Palestina, dimana setengah dari jumlah tersebut merupakan anak-anak.
Film dokumenter yang menyiarkan wawancara dengan komandan Hamas, Abu Walid, mengungkap bahwa tentara Zionis tiba di tempat penyergapan dan menemukan tiga mayat. Dua di antaranya merupakan serdadu Zionis. Film dokumenter itu mengungkap informasi baru bahwa setahun kemudian Hamas mengonfirmasi: salah satu mayat yang dipakaikan seragam tentara Zionis merupakan anggota Brigade al-Qassam, Walid Tawfiq Massoud.
Media Zionis menuduh Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata karena berupaya menangkap serdadu Zionis, Letnan Dua Hadar Goldin, di Rafah usai disepakatinya gencatan senjata. Namun, komandan Hamas mengungkapkan pada Al Jazeera bahwa Goldin ditangkap pukul 7.30 pagi –setengah jam sebelum gencatan senjata dimulai pada pukul 8 pagi. Sementara tentara Zionis mengklaim insiden terjadi pukul 9.30 pagi dan membenarkan klaim media Zionis atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas.
Namun, jika apa yang komandan Hamas klaim benar, maka itu berarti Zionis melakukan “Protokol Hannibal” –prosedur kontroversial dan rahasia yang biasa digunakan untuk memaksa pembebasan serdadu yang ditangkap dengan berbagai cara– bahkan jika itu mengharuskan mereka melukai serdadu yang ditangkap. Tentara Zionis membom terowongan dan seluruh Rafah dua jam setelah serdadu ditangkap. Itu berarti Hamas menangkapnya hidup-hidup.

Komandan Hamas, Abu Walid, mengatakan bahwa Brigade al-Qassam kehilangan komunikasi dengan sel penjara yang menangkap Goldin setelah pemboman Zionis dimulai. Tentara Zionis secara resmi menyatakan Goldin hilang dalam operasi militer, sementara keluarganya mengatakan ia telah tewas. Namun, jasadnya tak pernah ditemukan.
Kelompok Amnesti Internasional yang berbasis di London mengklaim terdapat bukti kuat kejahatan perang atas balasan agresif militer Zionis yang dikenal dengan “Jumat Kelabu” itu. Dengan menggunakan foto-foto satelit dan sejumlah kesaksian individu, Amnesti Internasional menyimpulkan bahwa “terdapat bukti kuat bahwa pasukan Zionis melakukan kejahatan perang dalam pemboman masif dan tanpa belas kasihan atas wilayah hunian demi menggagalkan penangkapan Letnan Hadar Goldin. Hal tersebut memperlihatkan Zionis tak menghormati hak hidup warga sipil.” Tentu saja, hingga kini Zionis menolak keras tuduhan tersebut.*