Hidayatullah.com—Harakah Muqawamah Islamiyah atau Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menunjuk Yahya Al-Sinwar sebagai ketua baru, menggantikan bekas Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah – yang menang mutla– pada Pemilu Parlemen Palestina 2006 namun dibatalkan Israel.
Yahya Ibrahim Hassan Al-Sinwar dilahirkan pada 1962, 14 tahun lalu saat keluarganya menjadi pengungsi dari Askalan (Ashkelon) pada 1948.
Yahya Ibrahim Hassan lahir di Kamp Pengungsi di Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Usai menyelesaikan sekolahnya yang dirikan Badan Bantuan dan Pekerja PBB (UNRWA), Al Sinwar mendaftar di Universitas Islam Gaza pada awal 1980-an. Sebelum itu, ia sempat menyelesaikan studi di Departemen Bahasa Arab.
Baca: 8 Tahun Menjabat, Ismail Haniyah Tinggalkan Kekuasaan Secara Sukarela
Tahun 1982, ketika masih di universitas, Al-Sinwar ditangkap oleh otoritas rezim Zionis-Israel, dipenjara selama empat bulan tanpa alasan. Sampai hari ini, penangkapannya masih menjadi rahasia badan intelijen Israel, meskipun mereka percaya itu termasuk keterlibatannya dalam serikat mahasiswa.
Namun kemungkinan besar, ia ditahan karena aktivitasnya bersama para mahasiswa saat itu yang mendukung Gerakan Hamas. Al-Sinwar pernah menang lima kali dalam pemilihan universitas dan menjadi presiden dewan perwakilan mahasiswa.
Tahun 1985, Al-Sinwar sekali lagi ditangkap rezim Tel Aviv dan menghabiskan waktu selama delapan bulan di penjara Israel, setelah dituduh mengambil bagian dalam pembentukan sayap intelijen Hamas, bersama pemimpin senior Hamas ketika itu, Ibrahim Al-Maqadmeh dan Ahmed Al-Maleh.
Baca: Bertemu Dua Pemimpin HAMAS, Syeikh Qardhawi: Semoga Kita Berkumpul di Al-Aqsha
Tiga tahun kemudian ia ditangkap lagi. Pada 1989, setelah penyelidikan terkait pembunuhan intelijen Israel untuk mendeteksi warga Palestina yang terlibat dalam Intifada Pertama, Al-Sinwar didakwa dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Selama 23 tahun dalam penjara Israel, Al-Sinwar dihormati sebagai orang kuat Hamas bersama rekannya Rawhi Mushtaha. Hamas beberapa kali menunjuk keduanya menjadi wakil tahanan.
Ketika di penjara Al-Majdal, kota di mana keluarganya diusir oleh tentara Zionis pada 1948, rencananya untuk melarikan diri terbongkar dan ia ditempatkan dalam kurungan. Peluang untuk melarikan diri sekali lagi muncul ketika di penjara Ramleh, tetapi akhirnya gagal.
Pada 2006, sayap militer Hamas – Brigade Izzuddin Al-Qassam – dan pejuang dari dua kelompok di Gaza menangkap seorang prajurit Israel Gilad Shalid, yang sedang bertugas di tenggara Jalur Gaza.
Baca: Bebas, Shalit Mengaku Diperlakukan Secara Baik
Pada tahun 2011, Sinwar dibebaskan setelah 23 tahun dipenjara sebagai bagian dari pertukaran tawanan yang dimediasi Mesir antara Hamas dan Israel di mana 1.027 warga Palestina dibebaskan dalam pertukaran untuk satu tentara Israel yang tertangkap oleh Hamas, Gilad Shalit.
Pada tahun 2012, ia terpilih sebagai anggota biro politik Hamas. Pada bulan September 2015, Amerika Serikat menambahkan Sinwar ke daftar hitam terorisme.
Selasa lalu, Hamas mengumumkan Yahya Ibrahim Hassan Al-Sinwar resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi organisasi itu di Jalur Gaza. Terpilih Yahya Ibrahim Hassan Al-Sinwar sebagai pemimpin baru Hamas di Gaza ini, menyusul pemilihan internal Hamas, menggantikan Ismail Haniyah, kata sebuah sumber kepada Anadolu Agency.
Sedang wakilnya, Dr Khalil Al-Hayyah, adalah seorang akademisi yang menjadi sasaran pembunuhan rezim Zionis-Israel. Setidaknya 10 anggota keluarga Dr Khalil telah syahid (InsyaAllah).
Sementara itu, Ismail Haniyah secara luas diharapkan menggantikan pemimpin biro politik Hamas yang saat ini berada di pengasingan, Khaled Misy’al.*