Hidayatullah.com–Seorang Imam Khatib Masjid Al-Abbas Jalur Gaza Syeikh Mudzaffar Salman An Nawati mengatakan, rakyat Jalur Gaza bersyukur kemenangan ‘Pedang Kota Suci Al-Quds’, ini disampaikan setelah penjajah ‘Israel’ menyatakan gencatan senjata yang disetujui Hamas setelah membombardir kota terpadat itu selama 11 hari.
“Saat ini jam 7 pagi waktu Gaza. Dan saya belum tidur, karena seluruh rakyat Gaza sedang merayakan kemenangan atas perang melawan ‘Israel’ ini,” katanya dalam acara Live Streaming! Gaza Sabar dan Ribath, Allah Menangkan” oleh channel Youtube Sahabat Al-Aqsha dengan imam-imam di Jalur Gaza, Jumat (21/5/2021).
Saat di tanya, serangan ‘Israel’ di Jalur Gaza tahun 2021 ini merupakan perang keempat, dan setiap perang, masyarakat Gaza harus kembali membangun rumah-rumah, bangunan, ia segera memotong pertanyaan host dengan mengatakan, apa yang dikorbankan rakyat Gaza masih belum sebanding untuk membebaskan Baitul Maqdis dan Masjid al-Aqsha.
“Sesungguhnya apa yang kami korbannya, rumah-rumah, anak-anak dan keluarganya kami, belum sesuai untuk membebaskan Masjid al-Aqsha,” kata oleh Syeikh 7 anak dengan 11 cucu ini. “Sesungguhnya, kami tidak akan berhenti membebaskan Baitul Maqdis, bahkan jika kami mati, kami sesungguhnya tidak mati, karena kami akan terus membersamai kalian membebaskan Masjid Al-Aqsha,” tambahnya.
Ia menambahkan, sebelum ada pernyataan resmi dari HAMAS dini hari bahwa ‘Israel’ ingin melakukan gencatan senjata, pada jam 02 (6 pagi WIB), Mudzaffar sempat menelpon sahabatnya seorang imam, Syeikh Muhammad Nidhal Khalil di Tepi Barat (dekat wilayah Masjid Al-Aqsha) yang terjajah. Dalam pembicaraannya, Syeikh Nidhal mengucapkan jutaan terima-kasihnya atas perjuangan rakyat Gaza menghindarkan Masjid Al-Aqsha dari penodaan penjajah zionis.
“Demi Allah, di hari hari perta zionis menyerang Masjid Al-Aqsha, kami putus asa sendirian di masjid, kami dilempari granat, peluru timah berbungkus karet, namun ketika kami mendapat kabar para mujahidin di Gaza melakukan penyerangan di ‘Israel’ maka tumbuhlah kekuatan, bahwa bantuan dan kemenangan telah tiba,” kata Syeikh Nidhal ditirukan Syeikh Mudzaffar Salman.
Saat ditanya soal Hamas, pemilik restoran yang menjual maghlubah (makanan khas Gaza) ini menjawab, kelompok pembebasan Masjid al-Aqsha ini adalah gerakan yang berusaha mencegah kezaliman dan kejahatan zionis-’Israel’ . Hamas adalah orang-orang yang melakukan pertolongan, membela keamanan dan keselamatan seluruh rakyat muslimin, wabil khusus di Palestina
“Mereka, atas izin Allah telah membantu bangsa Palestina. Kami rakyat Gaza bangga disebut Hamas. Kami bangga jika seluruh orang di dunia ikut disebut Hamas.”
Dalam obrolannya Mudzaffar mengatakan, perang tidak akan berhenti di sini. Menurutnya, rakyat Gaza akan tetap setia mengawal pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Baitul Maqdis, meski rakyat telah menjadi korban.
Sementara itu, Abu Islam, seorang relawan Sahabat Al Aqsha di Jalur Gaza mengatakan, penjajah membantai rakyat Gaza dan disaksikan di seluruh dunia. Bahkan menurutnya, tidak satupun Negara yang menyaksikan kebiadaban zionis melakukan tindakan untuk menghentikannya.
“Kita sudah menyaksikan, yang mengentikan adalah Allahu Subhanahu Wata’ala melalui tangan rakyat Gaza sendiri. Ini juga akan terjadi pada Masjid Al-Aqsha, kita hanya akan tergantung pada Allah saja, tidak tergantung pada yang lain untuk membebaskan Masjid al Aqsha,” katanya.
Pria asli Gaza ini mengatakan, Sahabat al-Aqsha di Gaza siap menunaikan amanahnya. Lembaga kemanusiaan ini tidak akan pernah meninggalkan rakyat Gaza sendirian, ujarnya.
Sekedar catatan, faksi perlawanan termasuk Brigade Izzuddin al-Qassam dan Jihad Islam resmi mengumumkan “Pertempuran Saiful Quds” (Pedang Kota Suci Al-Quds) dengan melancarkan serangan roket ke wilayah ‘Israel’ di al-Quds, Selasa, 11 Mei 2021. Serangan rudal-rudal Al-Qassam dilakukan sebagai respon terhadap kejahatan dan agresi yang dilakukan penjajah ke jamaah tarawih Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis pada akhir bulan Ramadhan, sekaligus respon intimidasi dan perampasan rumah-rumah warga Palestina di kampung Syeikh Jarrah.
Menurut pantauan media Yahudi, Time of ‘Israel’, Brigade Izzuddin al-Qassam telah meluncurkan hampir 3.700 roket yang dimiliki. Ini sebuah perkembangan luar biasa bagi sayap pembebasan meski telah dikepung 15 tahun dari darat, laut, dan udara yang membuatnya terisolasi dari luar.* (Hidayatullah.com | Sahahat al-Aqsha)