Hidayatullah.com – Menteri Keamanan Nasional ‘Israel’ Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjid Al Aqsha di Yerusalem Timur yang diduduki ‘Israel’ pada hari Rabu (03/04/2025) bersama sekelompok warga Yahudi lain.
Para pemukim ilegal beserta tokoh zionis seringkali melakukan penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha untuk memprovokasi warga Palestina yang mayoritas tidak bisa masuk ke sana akibat pembatasan ‘Israel’.
Gembong sayap kanan ‘Israel’ itu memasuki Masjid Al-Aqsha di bawah perlindungan ketat aparat dan berkeliling kompleks, kata seorang pejabat Departemen Wakaf Islam di Yerusalem kepada Anadolu.
Menteri ekstremis tersebut ditemani oleh lebih dari 24 pemukim ilegal selama turnya, tambahnya.
Penyerbuan tersebut merupakan yang keenam yang dilakukan oleh Itamar Ben-Gvir ke dalam kompleks Al-Aqsa sejak ia bergabung dengan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada tahun 2022.
Sejak pecahnya perang Gaza pada 7 Oktober 2023, zionis ‘Israel’ semakin memperketat kontrol dan membatasi akses warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki ke Yerusalem Timur.
Warga Palestina menganggap pembatasan ini sebagai bagian dari upaya ‘Israel’ yang lebih luas untuk meng-Yahudi-kan Yerusalem Timur, di mana Masjid Al-Aqsha berada, dan menghapus identitas Arab dan Islam.
Sejak tahun 2003, ‘Israel’ telah mengizinkan para pemukim ilegal masuk ke dalam kompleks titik suci tersebut hampir setiap hari, kecuali hari Jumat dan Sabtu.
Masjid Al-Aqsha adalah situs tersuci ketiga di dunia bagi umat Islam. Orang Yahudi mengklaim daerah itu sebagai Temple Mount, karena di sana terdapat dua kuil Yahudi pada zaman kuno.
Penjajah ‘Israel’ menduduki Yerusalem Timur selama Perang Arab-Israel 1967. Entitas zionis mencaplok seluruh kota pada tahun 1980 dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional.
Ben-Gvir telah keluar dari kabinet pada bulan Januari sebagai protes atas perjanjian gencatan senjata di wilayah Palestina.
Penjaga dan pengelola Masjid Al-Aqsha, Yordania, telah mengecam kunjungan itu sebagai “penyerbuan” dan “provokasi yang tidak dapat diterima”. Sedangkan Arab Saudi, dalam sebuah pernyataan, mengecam keras tindakan Ben-Gvir.
Mesir juga turut menyatakan “kutukan dan kecaman keras” atas “penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha yang diberkahi oleh Ben-Gvir.”
Kompleks Masjid Al-Aqsha atau Masjidil Aqsha di bawah status quo dikelola oleh Yordania, sementara akses keluar dan masuknya dikontrol oleh aparat ‘Israel’.
Politisi ultra-Ortodoks yang berpengaruh, Moshe Gafni, seorang anggota mayoritas pemerintah, mengkritik kunjungan Ben-Gvir pada hari Rabu sebagai “pelanggaran terhadap kesucian tempat tersuci bagi umat Yahudi.”
“Ini tidak menunjukkan kedaulatan; sebaliknya, ini merupakan penodaan terhadap tempat suci dan memicu hasutan yang tidak perlu di dunia Muslim dan sekitarnya,” tulisnya di X.
Beberapa pemimpin Yahudi memperingatkan agar tidak mengunjungi situs tersebut dengan alasan agama.
Pemerintah ‘Israel’ telah berulang kali mengatakan bahwa mereka berniat untuk menegakkan status quo di kompleks tersebut, namun kekhawatiran Palestina tentang masa depan tempat tersebut telah menjadikannya sebagai titik nyala kekerasan.
PBB sebelumnya telah mengecam “segala upaya untuk mengubah status quo di situs-situs suci.”