Sambungan berita PERTAMA
Di Lyyd, Yousif Shaaban, seorang saudara dari korban, mengatakan pada media setempat bahwa kamera pemantau telah dipasang di mobil Amin yang merupakan sepupunya dan keluarga meminta polisi untuk memperlihatkan pada mereka apa yang terjadi di dalam mobil.
Penduduk Israel menghadiri sebuah upacara lilin pada 2 Januari di lokasi dimana penembak memberondong pelanggan bar dengan tembakan yang terjadi sehari sebelumnya, menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya.
Sehari setelah penembakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato di depan bar yang disiarkan televisi. Haaretz menyebut penembakan itu sebagai “sebuah kekerasan, memalukan, dan mendekati rasis terhadap Arab Israel,” ungkapan koran Tel Aviv yang dilontarkan untuk menggambarkan 1,5 juta penduduk Palestina di Israel.
Pada Selasa, kepolisian Israel menangkap Muhammad Milhem, ayah dari tersangka.
Otoritas Israel menuding bahwa dia membantu anaknya menghindari penangkapan, terlepas dari fakta bahwa Muhammad Milhem lah yang memberi tahu polisi bahwa dia mengidentifikasi penembak sebagai anaknya.
Kepolisian mengatakan bahwa Nashat Milhem menggunakan surat resmi penggunaan senjata api yang dia curi dari ayahnya, yang memiliki itu sebagai bagian dari pekerjaannya di dalam perusahaan keamanan swasta.
Pengadilan di Haifa menjatuhi Muhammad Milhem dengan hukuman penjara atas tiga pasal pada Kamis.
Kepolisian sejauh ini telah menahan delapan anggota keluarga Milhem, kebanyakan dari mereka telah dibebaskan, walaupun fakta bahwa anggota keluarga itu, termasuk Muhammadi Milhem, berulang-ulang mengecam kejahatan yang diduga dilakukan Nashat dan menyeru Nashat untuk menyerahkan diri.
“Kami mohon padamu, ini menghancurkan keluarga kita. Ibu, ayah dan semua orang merasa trauma atas apa yang sedang mereka alami. Pikirkan orang tuamu, saudara-saudaramu, dan serahkan dirimu,” Jawad saudara kandung Nashat memohon.
“Ini ketidakbecusan polisi,” seorang pengacara dari keluarga Milhem mengatakan pada media Israel merujuk pada penangkapan.” Pada akhirnya mereka akan menangkap seluruh keluarga. Shin Bet [dinas rahasia] sedang tertekan. Tidak ada satupun anggota mempunya hubungan dengan apa yang anaknya lakukan.”
Israel percaya kemungkinan besar Nashat Milhem telah melarikan diri ke wilayah Tepi Barat, dimana otoritas Palestina dilaporkan setuju untuk membantu penangkapan Nashat.
(Update, Jumat, 8 Januri: Media Israel melaporkan bahwa Milhem telah ditemukan dan dibunuh oleh polisi di dekat tempat asalnya Arara)
Pemakaman yang tertunda
Menyebrangi Tepi Barat, keluarga warga Palestina melanjutkan untuk menyemayamkan orang tercinta yang jasad mereka ditahan oleh Israel.
Ribuan pelawat menghadiri pemakaman dari Muhammad Saed Ali 19 tahun di Timur Jerussalem pada Selasa setelah Israel mengembalikan jasadnya yang telah ditahan selama 88 hari.
“Aku memeluk anakku setelah dia ditahan selama tiga bulan di kamar mayat Israel. Aku memeluknya, berbicara dengannya, menyemangatinya, dan memaafkannya,” ibu Ali mengatakan pada Ma’an News Agency.
Ali, yang tinggal di kamp pengungsian Shuafat, ditembak mati setelah melukai dua tentara Israel dalam penusukan di Timur Jerussalem pada 10 Oktober.
Seorang wanita Palestina memegang sebuah poster bergambar dua orang Palestina yang dibunu h oleh pasukan Israel, pada protes di Timur Gerbang Damaskus Jerussalem pada 5 Januari mendesak pengembalian jasad yang ditahan oleh Israel.
Keluarga-keluarga di Hebron menyelenggarakan pemakaman bersama untuk 14 orang Palestina pada 2 Januari. Jasad mereka termasuk dari 23 jasad yang diberikan oleh Israel pada Otoritas Palestina sehari sebelumnya.
Setidaknya 80 jasad dari orang Palestina yang dibunuh selama dugaan serangan, termasuk beberapa anak kecil, telah ditahan oleh Israel.
Sanak famili mereka berkabung di dekat jasad Fadil Qawasmi, di Hebron pada 2 Januari.
Qawasmi adalah satu diantara lusinan jasad yang ditahan Israel yang dikembalikan pada otoritas Palestina pada hari sebelumnya. Qawasmi ditembak hingga mati oleh pemukim Israel pada 17 Oktober 2015. Wisam Haslamoun APA images
Israel mulai mengembalikan banyak dari mereka pada akhir Desember, memaksa penahanan dari pemakaman mereka.
Sikap Israel yang tidak merawat jasad korban menyebabkan otoritas Palestina menyelidiki dan mengetahui penyebab pasti dari kematian mereka.
“Koordinasi Kemanan”
Sewaktu kematian dari penduduk Palestina menghiasi headline berita di seluruh dunia, skala dari kekerasan yang rutin dilakukan oleh Israel mulai jarang terjadi.
Pada awal minggu di tahun 2016, tentara Israel melancarkan setidaknya 80 serangan pada komunitas Palestina di Tepi Barat. Mereka menangkap lusinan orang Palestina, termasuk sembilan anak-anak, dan menghancurkan beberapa rumah di Jerusslame, berdasarkan laporan Palestinian Centre for Human Rights.
Warga Palestina memeriksa rumah mereka yang dihancurkan oleh pasukan Israel di pemukiman Timur Jerussalem Ein al-Lawza pada 7 Januari dengan dalih bahwa penghancuran itu memiliki izin konstruksi.
Pada 6 Januari, pasukan Israel menyerang kantor Palang Merah di Timur Jerussalem dan menahan Samer Abu Eisheh dan Hijazi Abu Sbeih. Dua warga Jerusalem, baru-baru ini diprofilkan oleh The Elektronic Intifada, yang menentang dan memprotes perintah Israel untuk mengusir mereka dari kota mereka sendiri.
Sementara itu, Israel memuji Otoritas Palestina yang dipimpin Mahmoud Abaas yang bersikap “sangat baik” dalam kerjasama dengan pasukan pendudukan Israel.
Pemerintah Israel dilaporkan mempertimbangkan untuk menghadiahi Otoritas Palestina dengan persetujuan-persetujuan yang bertujuan untuk membantunya “memaksakan lebih banyak perintah pada jalan-jalan di Palestina.”
Pada hari-hari ini, Abbas telah mengulang ancamannya untuk mengakhiri kerja sama dalam hal keamanan Otoritas Palestina dengan tentara Israel dan dinas rahasia Shin Bet.
Abbas mengatakan bahwa komite eksekutif darin Palestine Liberation Organization (PLO) akan mengambil keputusan pada sebuah rapat minggu depan.
Kerja sama keamanan telah dikecam oleh seluruh faksi politik Palestina dan warga sipil, dimana ini secara luas dipandang sebagai kolaborasi.
Tetapi menganggap Abbas akan mengakhiri praktek itu secara sukarela.
Abbas, pada bagian itu, sebelumnya telah menggambarkan bahwa bantuan Otoritas Palestina pada Israel untuk menekan protes dan perlawanan terhadap pasukan pendudukan sebagai sebuah tugas “suci”.*/Nashirul Haq AR